x
Aksi Sayat Tangan Dinilai Persoalan Serius, KPAI akan Cek Langsung Kondisi 56 Siswa di Pekanbaru
KPAI akan cek langsung ke SMP 18 Pekanbaru. (Foto:Istimewa)

Aksi Sayat Tangan Dinilai Persoalan Serius, KPAI akan Cek Langsung Kondisi 56 Siswa di Pekanbaru

Jumat, 05 Oktober 2018, 06:33:58
PEKANBARU-Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan mengecek langsung kondisi 56 pelajar SMP 18 Pekanbaru, Riau yang menggelar aksi sayat tangan usai konsumsi minuman berenergi. KPAI menilai, persoalan tersebut serius dan akan langsung dikoordinasikan dengan BPOM dan BNN.

"Namun karena BPOM telah menyatakan bahwa minuman yang dikonsumsi para pelajar tersebut positif tidak mengandung NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) lainnya, KPAI perlu melakukan pendalaman atas penyebab kasus ini," ujar Komisioner KPAI bidang Kesehatan dan Napza Sitti Hikmawatty dalam keterangan tertulis, Kamis (4/10/2018).

Pagi ini, KPAI dijadwalkan mengunjungi SMP 18 Pekanbaru untuk mendalami kasus tersebut. KPAI sudah berkoordinasi dengan beberapa dinas terkait, untuk bisa bersama-sama mencari penyebab masalah dan solusinya. "Jumlah 56 pelajar pada kasus itu bukanlah hal sederhana, ini perlu pedalaman yang serius," kata Sitti.

Menurut Sitti, belajar dari pengalaman negara tetangga di Asia, ada beberapa tontonan dan bahkan lagu-lagu yang menstimulasi alam bawah sadar seseorang sehingga mereka bisa melakukan kegiatan yang disarankan ataupun dicontohkan oleh film dan lagu tersebut. Hal ini termasuk ajakan menyakiti diri sendiri sampai dengan bunuh diri.

"Ini sangat perlu diwaspadai, kalau benar penyebabnya adalah tontonan YouTube maka KPAI akan memberikan masukan-masukan pada kementerian terkait. Namun sebelum itu tentunya harus dilakukan dulu pendalaman pada para siswa yang melakukan aksi menyayat bagian anggota tubuhnya ini," tuturnya.

Melihat usia siswa yang menggores tangannya, KPAI juga mempertimbangkan masalah perubahan hormonal pada siswa. Selain itu, juga terkait dengan mekanisme pertahanan diri yang mungkin belum matang atau immatur.

"Ataupun kuatnya pengaruh lingkungan teman, pola asuh dalam keluarga, serta pengaruh Media sosial. Anak-anak ini sangat mudah untuk mencontoh (modelling) daripada dikuliahi/diberi nasihat. Karenanya pendekatan gurupun menjadi faktor yang sangat bermakna," ungkap Sitti.

Sebelumnya, pihak SMP Negeri 18 Pekanbaru menyebutkan puluhan muridnya yang melakukan gores tangan tergolong berprestasi. Hal itulah yang membuat pihak sekolah kaget mengapa siswa yang nilainya di atas rata-rata itu melakukan aksi gores tangan.

"Dari awal kami razia, terdapat 55 anak-anak kami yang menggores tangannya. Dan kami sempat kaget, umumnya mereka anak-anak yang berpretasi, artinya mereka tidak tergolong yang kurang pintar," kata Kepsek SMP Negeri 18 Pekanbaru Lily Deswita, Kamis kemarin. (*)




 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Detikcom
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version