x
BMKG Sebut 584 Titik Panas Kepung Sumatera, Riau Terpantau 272 Hotspot
Riau terkepung titik panas. (Foto:Istimewa)

BMKG Sebut 584 Titik Panas Kepung Sumatera, Riau Terpantau 272 Hotspot

Sabtu, 24 Agustus 2019, 15:22:55
PEKANBARU-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan sebanyak 584 titik panas yang mengepung Sumatera. Titik panas tersebut merupakan indikasi awal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan terdeteksi, Sabtu (24/8/2019). 

Berdasarkan data pantauan satelit pukul 06.00 WIB yang dirilis BMKG Stasiun Pekanbaru menunjukan, titik panas terbanyak berada di Riau dengan 272 titik. Jumlah tersebut naik dua kali lipat dari kemarin. "Di Riau jumlahnya naik dari kemari sore 112 titik, pagi ini jadi 272," kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Nia Fadhila. 

Selain Riau, provinsi lainnya di Sumatera yang terdapat banyak titik panas di antaranya Jambi ada 128 titik, Sumatera Selatan 99 titik, Bangka Belitung 41 titik, Lampung 18 titik, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau masing-masing 11 titik, dan Bengkulu 4 titik. 

"Asap dari provinsi tetangga ada peluang mencapai Riau tapi karena jaraknya jauh tidak begitu terasa, sedangkan di Riau sendiri banyak terdeteksi titik panas," katanya. 

Dijelaskan, dari 272 titik panas di Riau, lokasi paling banyak di Kabupaten Pelalawan dengan 102 titik. Daerah lainnya antara lain Indragiri Hilir ada 90 titik panas, Bengkalis 35 titik, Indragiri Hulu 17 titik, Kepulauan Meranti dan Siak masing-masing 9 titik, Rokan Hilir 7 titik, Kuansing 2 titik serta Kampar satu titik panas. 

Dari jumlah tersebut, ada 192 yang teridentifikasi sebagai titik api. Lokasi paling banyak juga di Pelalawan ada 76 titik, kemudian Indragiri Hulu 60 titik, dan Bengkalis 29 titik. Menurut Nia, arah angin berhembus dari tenggara ke barat daya, sehingga asap karhutla kini mencapai Pekanbaru. "Asap dari daerah di Tenggara seperti Pelalawan yang banyak titik panas," katanya. 

Berdasarkan pantuan, asap menyelimuti Pekanbaru cukup pekat Sabtu pagi. Data BMKG menyatakan, jarak pandang kini mencapai 1.500 meter. Sedangkan kualitas udara memburuk mendekati status tidak sehat akibat polusi jerebu karhutla. (*)





Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Antara
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version