x
BNPB Sebut Sejumlah Daerah Minta Hujan Buatan Atasi Kekeringan
Ilustrasi. (Foto:Istimewa)

BNPB Sebut Sejumlah Daerah Minta Hujan Buatan Atasi Kekeringan

Selasa, 16 Juli 2019, 06:25:51
JAKARTA-Musim kemarau berkepanjangan telah menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah di Tanah Air. Masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih. Karena itu, para kepala daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat hujan buatan. 

Kepala BNPB Doni Monardo mengakui, pihaknya memang mendapat permintaan dari sejumlah kepala daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan untuk membuat hujan buatan. Terkait permintaan itu, BNPB telah mendapat arahan khusus dari Presiden Joko Widodo untuk membuat hujan buatan guna mengatasi kekeringan di beberapa daerah.

"Tadi arahan Bapak Presiden, BNPB untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan," kata Doni di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/7/2019).

Doni menyatakan, dari data terbaru per hari ini dampak kekeringan sudah melanda 1.963 desa, 556 kecamatan dan 79 kabupaten yang tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurutnya, dalam melakukan hujan buatan pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Daerah yang mungkin masih bisa dilaksanakan teknologi modifikasi cuaca itu juga tergantung dari keadaan awan. Apabila keadaan awan masih tersedia sangat mungkin hujan buatan masih bisa dilakukan," ujarnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut, pihaknya memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus. Sementara dampak kekeringan akibat kemarau itu bakal berlangsung sampai September mendatang, untuk wilayah yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa.

Daerah-daerah yang terdampak kekeringan antara lain Pulau Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT hingga Papua bagian selatan. "Itu yang paling luas di bulan Agustus puncak musim kemaraunya. Dampaknya kekeringan itu masih berjalan sampai September untuk wilayah selatan itu," kata Dwikorita.

Menurutnya, musim kemarau kemudian akan melanda wilayah yang berada di utara garis khatulistiwa pada Oktober sampai Desember. Ia menyebut musim kemarau memang tak serempak terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

"Keringnya berjalan nyebrang khatulistiwa, jadi ke arah utara. Itu sampai Desember itu masih ada kekeringan di Kalimantan Utara, masih ada. Jadi tidak seragam," ujarnya.

Karena itu, Dwikorita menyampaikan peringatan dini terkait musim kemarau yang membuat kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Ia menyatakan perlu dilakukan antisipasi agar kebutuhan air bagi masyarakat tetap tersedia.

"Karena nanti ketersediaan air akan mengalami defisit terutama di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua itu akan defisit air juga kering," tuturnya. (*)




 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: CNNIndonesia
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version