x
Cacing Obat Mujarab di Pasir Adat

Cacing Obat Mujarab di Pasir Adat

Rabu, 10 April 2013, 17:44:05
Oleh: Dodi Syahputra*

Panas dingin. Badan ini. Mulai dari ujung kuku jempol kaki sampai ubun-ubun. Meriang, dingin, tapi kata istri panas alang kepalang. Kepala saya seperti diremas dengan mesin pres kelapa yang menumbuk keras 2,5 meter. Badan letih. Tak ada daya.

Ini bukan lagi gelaja. Ini sudah kumat kedua kalinya. Lima tahun lalu, saat masih bolak-balik Payakumbuh-Padang dengan sepeda motor. Meski derunya menyingkirkan debu dan rintik hujan, tapi yang membawa motor tidak diisi bensin. Saya yang membawa roda dua dengan motor bakar itu harus membagi fisik, pikiran dan stamina agar perjalanan 126 km itu jadi lancar.

Malam Jumat, jaket tebal anti hujan dan ransel telah tertempel di badan dan bahu. Deru mesin pun makin kencang. Ingat rumah di Payakumbuh, rasanya telah sampai saja. Meski baru satu meter dari rumah di Siteba. Ah, dinginnya malam bukan lawan hati rindu keluarga.

Soal perjalanan, tentu ada liku dan sendunya. Saat hujan di Malibo Anai dari Kayutanam, terngianglah Tiar Ramon dengan lirik ”Hujan.” Tak dapat seteru lagi, hujan hanya air yang jatuh menetes, semakin banyak, semakin lebat. Pandangan di kelok Silaiang sudah pupus. Tak ada anak simpang yang biasa mengatur lalu-lintas. Bersandal jepit.

Sampai di Padangpanjang, jaket tebal ini tak ada guna. Tak ada yang bisa menahan udara dingin Merapi dan Singgalang yang kalau sudah senja emas, turun ke bawah, tepat di Padangpanjang. Entah iya, entah tidak, dinginnya mengadu tulang rusuk dengan bahu. Harus kuat-kuat kupegang stang motor yang melaju. Kian kencang, melawan dingin malam.

Bukittinggi terlewat. Sampai lupa, kota wisata sebab saya belokkan motor ke Jambu Air. Air tak lagi turun. Reda entah dimana hilangnya. Payakumbuh terlihat gelap. Sudah larut. Kota berhawa sedang, panas tidak, dingin entahlah. Masih 36 km lagi menuju Suliki. Di atas Bukit Kurai. Sudah di ujung bayang, pintu rumah berwarna biru terang. Kalau malam, tetap terang sebab saya pasang lampu neon merk Inggris. Luar biasa.

Pagi hari. Pandangan ini berkunang-kunang. Jalan sempoyongan. Saya kira biasa, sebab letih atau tak kuasa menahan kantuk. Tapi ini lain, sungguh beda. Semua jaringan tubuh rasa tak bekerja. Gubrak...!

Kulit saya siang dan malam kelam. Namun, kini jadi kekuningan. Kalau lah tak begini keadaan tubuh, barangkali saya gembira. Mata memerah, panas. Ah letih sangat. Saya memilih tidur dari biasanya bermanja dengan Hasnul, anak lelaki saya.

Biasalah, di kampung, Kurai Suliki ini jarang obat dokter dipakai. Kalau lah tak sakit benar seperti patah tulang atau batuk darah, akan diobat semampu alam. Daun-daun dan akar-akar pohon di sini banyaknya dan beragam. Ibarat istana obat alam terkembang di ladang, halaman sampai ke tepi bandar sawah dan tabek (kolam) ikan.

Tak ada vonis dokter, dukun, tabib atau bidan. Istri saya langsung ketuk palu. Saya gejala sakit kuning, keletihan atau semacamnya. Istri saya guru di sebuah SMP di atas, lebih di nagari di atas. Tempat PDRI bersejarah.

Sungguh terampil, istri saya layaknya seorang apoteker, kemudian ke kedai di samping bukit. Dibelinya, 12 buah sarang kapsul. Merah hitam. Saya tanya dengan lirih, “untuk apa?” Istri tercinta hanya menjawab pendek, “cacing!”

Ah, yang benar saja. Saya yang sakit kok cacing yang dikasih kapsul kosong. Tapi ternyata tidak. Kapsul kosong itu, rupanya diisi cacing. Cacing-cacing kecil di kecil, seruas jari, itu dikumpulkan istri saya dari bawah balai adat. Di bawahnya itu, berpasir. Kering. Cacing-cacing kecil itu mudah ditangkap sebab memang banyak.

Usai dikumpulkan, lalu dengan cekatan, masih di depan saya yang terduduk letih di ruang tamu, berhadapan dengan teh pahit panas, istri saya membuka tutup kapsul merah hitam itu satu per satu, cacing itu masing-masing kapsul 2 buah. “Ayo, dimakan dulu tiga kapsul, nanti sore tiga, malam mau tidur tiga, sisanya besok pagi,” perintah istri saya yang memang luar biasa ini.

Kalau membayangkan makan cacing, mau muntah dibuatnya. Tapi, saya tidak membayangkan itu, saya makan kapsul berisi obat biasa. Ah, tertelan lemah bersama teh pahit yang mulai dingin. Ah, rasanya pun tak ada. Tak tertinggal aroma cacing pun, yang bau tanah.

Sabtu saya sudah baikan. Nafas sudah mulai lancar, tidak sesak, tidak berat. Naluri saya kemudian bertanya banyak ke istri, obat apakah yang saya makan, tanpa saya boleh bertanya saat meminumnya. Cacing?

Gejala Tifoid

Demam tifoid atau tifus atau gejalanya, sebab fisik lemah atau kecapekan biasanya mudah menyerang. ”Apalagi kita yang bepergian jauh ini. Lemah fisik akibat perjalanan memudahkan penyakit apa saja menyerang,” istri saya serius bak dokter mendiagnosis.

Hari ini, sejak 3 tahun yang lalu berlalu, di banyak rumah obat modern dan herbal banyak dijumpai kapsul cacing. Tinggal dibeli, tinggal mengeluh tentang sakit kelelahan ini, bayar maka dapatlah kapsul cacing ini. Kabarnya, kapsul cacing ini isinya sudah ditumbuk dan plus-plus dengan racikan lain yang terdiri dari vitamin dan sejenisnya.

Dokter praktik sendiri tidak merekomendasikan obat ini. Sebab tidak tercantum izin legal apa-apa. Namun, memang cacing berprotein tinggi yang bernama latin Pheretima aspergillu atau cacing kalung ini saya makan, dan Insya Allah sembuh. Saya sehat kembali. Sampai hari ini.

Ternyata dari 1800 spesies cacing hanya ada dua cacing yang sering dijadikan obat tradisional, cacing eropa atau introduksi (Lumbricus rubellus) dan cacing kalung atau long (Pheretima aspergillum). Gejala dan penyakit tifus ini diserang dari dua arah, dibunuh bakterinya sekaligus demam diturunkan. Berkat cacing kalung.

Faktor kelelahan ternyata menjadi utama. Tentunya soal kebersihan tangan, lalat dan debu yang bisa menyebarkan bakteri tifoid yang penyebab utama penyakit tifus. Bakteri tifoid memang berasal dari tempat-tempat kotor hasil pencernaan kita. Sayang, jika fisik atau pertahanan tubuh sedang jatuh, keletihan, maka demam tifoid gampang sekali menyerang.

Kebiasaan warga Payakumbuh, khususnya di arah Mudiak ini patut menjadi perhatian. Sebab, ternyata pengobatan tradisional ini sudah menyebar sampai ke mancanegara. Bahkan, tak jarang di apotek resmi pun dijual pil cacing yang terkenal manjur mengobat tifus dan gejalanya ini. Sekali lagi, pengobatan ini tidak direkomendasikan oleh dokter manapun. Maka resep pil cacing tentu tidak perlu resep membelinya, bebas di pasaran.

Sampai hari ini hanya disakwasangka bahwa cacing kalung atau dikenal di kampung istri saya, dengan sebutan ”sisuruik”, sebab jalannya yang beringsut mundur, mengandung protein berkadar sangat tinggi. Bahkan pernah, kawan saya yang juga tipus, dibawakan secerek air panas-panas kuku yag sudah dicampur sekaleng susu, gilingan cacing kalung ini. Baunya, entahlah, tapi saya pun ikut mencicipi. Setelah itu, badan saya segarnya minta ampun.

”Masih untung Uda tidak sakit parah betul. Hanya kelelahan, gejalanya saja. Kalau sudah tifus betul, susah sembuhnya. Biasanya, Bapak, sampai Atuak (kakek) juga minum cacing sisuruik ini kalau sudah letih betul dari sawah dan ladang,” ujar istri saya saat kami diskusi ringan di beranda rumah.

Rumah mertua saya yang kami miliki satu kamarnya saja itu memang sangat asri. Di halaman depan, lapang dan tepat di sebelah kanan depan balai adat itu berdiri. Entah sudah berapa usianya, tapi istri saya belum lahir 30 tahun lalu, balai adat itu sudah ada.

Lalu, di samping kanan, ada deretan tanaman limau sangkis, sedang ranum banyak buahnya. Anak-anak sekolah di dekat rumah sering mengambil satu-satu. Sampai tujuh. Sambil menyetorkan Rp500 rupiah sebagai penukarnya ke mertua perempuan. Anak-anak sekolah di kampung saya yang lincah-lincah ini setiap jam istirahat sekolah selalu ribut di kebun limau sangkis, ”Amak!” panggil mereka memanggil mertua saya.

Suasana ini jadi hiburan penenang jiwa di kampung yang tak ramai tetapi beragam potensi ini. Bayangkan, sejak herbal jadi pilihan utama obat-obatan saat ini, apa saja macamnya telah ditanam mertu sejak lama. Ada ”ampadu tanah” yang asli. Maksud saya asli, asli pahitnya. Direndam air panas dua lembar saja utk satu gelas serasa setahun baru hilang. Pahitnya!

Di kebun belakang seribu satu macam daun obat tersedia. Segar-segar. Saya baca buku obat-obatan herbal, semua jenis daun ada, akar-akar, sampai ranting-ranting kayu beraneka rupa meski berbeda namanya dengan sebutan di Jawa sana.

Ternyata, obat-obatan atau ramuan tradisi atau pun resep kampung semacam cacing kalung berkhasiat. Ini tidak mengada, sebab saya sendiri merasakannya. Tentu tidak semua penyakit, keluhan kesehatan, ataupun opname lainnya hasil diagnosis akan mampu diatasi oleh solusi alam ini saja.

Paduan dan kombinasi saling mendukung akan menciptakan kondisi kesehatan, penanganan spesifik obat yang sesuai. Seperti di Cina, tempat belajar orang Islam sejak Nabiyullah memberi petunjuk, kini telah banyak profesor kedokteran obat tradisional. Manjur. (***)

*Jurnalis di Limapuluh Kota, Sumatera Barat
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version