x
Edy Nasution dan Pilgubri Kita
Edy Nasution. (Foto:Istimewa)

Edy Nasution dan Pilgubri Kita

Senin, 26 Maret 2018, 06:12:06
Catatan: Eka PN

DALAM satu kesempatan ngopi bersama, saya bertanya sama Pak Edy Nasution tentang alasannya memilih pensiun dini dari TNI, lalu maju menjadi orang nomor dua, bukan orang nomor satu.

Pak Edy terkesiap. Lalu setelah menyeruput minumannya, beliau menjawab pertanyaan saya sembari tersenyum.

"Begini dinda Eka. Awalnya saat ditugaskan menjadi Danrem ke Riau, itu bagi sama dengan pulang kampung, setelah tiga puluh tahun bertugas di sejumlah daerah di Indonesia.

Kebetulan di Riau sedang ada persiapan pemilihan gubernur. Semua orang sedang membicarakan siapa-siapa tokoh Riau yang akan maju di Pilgubri 2018. Dari beberapa pertemuan dengan tokoh masyarakat dan keluarga besar, saya pun disarankan untuk maju. 
Waktu itu saya belum mau. 

Namun hampir di mana-mana saya disarankan untuk maju juga oleh tokoh-tokoh senior kita. Demikian pula dengan keluarga yang minta saya bersedia maju. 

Akhirnya saya jawab, ini akan saya pertimbangkan dengan catatan: Satu, saya jangan 'dijodohkan' dengan calon manapun; kedua, kasih saya waktu beberapa bulan untuk mempelajari semua nama-nama bakal calon gubernur yang akan maju.

"Setelah proses itu berjalan beberapa bulan, pria kelahiran Bengkalis 29 Mei 1961 menjatuhkan pilihannya kepada Bupati Siak H Syamsuar.

"Iya, kenapa Pak Syamsuar?" Saya balik bertanya.

"Alasannya, selain sederhana dan agamis, Pak Syamsuar itu adalah birokrat yang meniti karir dari bawah. Prestasinya segudang untuk daerah ini, khususnya Siak. Segudang prestasi Alhamdulillah sudah beliau persembahkan untuk kabupaten Siak.

Alasan lainnya dia seorang pamong yang sangat disiplin, baik disiplin waktu maupun disiplin kinerja. Oleh beliau Siak mendapatkan prestasi pengelolaan keuangan daerah tingkat nasional, enam kali berturut-turut meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ini sangat luar biasa. Kami saja di TNI baru satu menerima WTP tahun 2014.

*

Nah terkait tentang alasan dia mau menjadi orang nomor dua, Edy mengakui dalam pendidikan militernya setiap prajurit harus mampu menjadi nomor satu. Menjadi komandan di setiap kesatuan.

"Namun setelah mengenal sosok Syamsuar lebih dekat, untuk menjadi nomor satu atau nomor dua sudah bukan masalah lagi bagi saya. Yang penting saya punya kesempatan untuk mengabdikan diri demi daerah dan masyarakat Riau yang saya cintai ini," ujarnya, petang itu. 

Dilanjutkan mantan Danrem 031 Wirabima dan jenderal purnawirawan ini, selama dua periode kepemimpinan Syamsuar, dia melihat hubungan orang pertama dan kedua (Bupati dan Wakil Bupati) sangat solid. Sebagai prajurit TNI, hal itu menjadi tolak ukur tersediri untuk menilai kualitas seorang pemimpin.

"Atas pertimbangan objektif itulah, saya berketetapan hati untuk mendampingi Pak Syamsuar di Pilgubri sekarang ini. 

*

H Edy Nasution adalah sosok yang agamis. Kedekatan beliau dengan ulama bukan baru-baru ini saja. Edy kecil dididik ketat oleh orang tuanya dengan ilmu agama. Sehingga bekal ilmu agama itulah yang menjadi penuntun arah hidupnya. 

Sejak masuk Akademi  Militer, tamat dan  mengabdi ke tengah masyarakat, Edy dikenal sebagai figur militer yang agamis. Hampir di setiap kesempatan Edy didaulat masyarakat menjadi khatib Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha, dan imam shalat berjamaah.

*

 
Alhamdulillah, Edy Nasution yang dinilai sebagai orang baru di dunia politik berhasil beradaptasi dengan suasana politik Pilgubri. Dia adalah satu-satunya calon wakil gubernur yang bukan politisi, namun oleh masyarakat justru paling mendapat apresiasi. 
Ini menarik.
 
Survey Polmark Indonesia 12-16 Februari 2018 menempatkan dirinya sebagai calon wakil gubernur dengan elektabilitas tertinggi, yakni 16.7 persen. Disusul Suyatno 10.4 persen, Rusli Effendi 9.7 persen dan Hardianto 4.5 persen. Yang menjawab rahasia 14.0 persen, tidak tahu/tidak menjawab 44.8 persen.

Sedangkan survei Poltracking 20-25 Februari 2018 lalu yang sore tadi dirilis juga menyatakan, elektabilitas calon wakil gubernur tanpa pasangan, nama Edy Nasution tertinggi sebesar 14.6 persen. Setelah itu Suyatno 12,6 persen, Hardiyanto 11.2 persen, Rusli Efendi 8.7 persen, lainnya 2.9 persen dan tidak jawab/tidak tahu 50 persen.

Demikian pandangan saya tentang Pak Edy Nasution. Proses Pilgubri masih berjalan, segala sesuatu bisa saja mengubah prediksi.  

Mengutip Pak Edy, kerjakan setiap sesuatu kebaikan dengan cara baik agar mendapatkan ridha Tuhan. Kerjakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Hasilnya, kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Wallahualam.
 (***)
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version