x
Heboh Aplikasi Injil Bahasa Minang di Play Store, Kominfo Sumbar: Sudah Dihapus
Ilustrasi. (Foto:CNNIndonesia)

Heboh Aplikasi Injil Bahasa Minang di Play Store, Kominfo Sumbar: Sudah Dihapus

Jumat, 05 Juni 2020, 14:41:12
PADANG-Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Sumatera Barat Jasman Rizal menegaskan, aplikasi Injil berbahasa Minangkabau yang terdapat Play Store android kini telah dihapus.

Menurut Jasman, pihaknya sudah lama mengetahui aplikasi tersebut dari pengaduan masyarakat. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno telah menyurati Menkominfo Johnny G. Plate untuk menghapus aplikasi tersebut. "Kini aplikasi itu sudah dihapus," kata Jasman kepada wartawan, Jumat (5/6/2020).

Irwan telah menyurati Menkominfo, 28 Mei 2020. Dalam surat itu dia mengatakan, masyarakat Minangkabau keberatan dan resah terhadap aplikasi tersebut. Dia juga menyampaikan, aplikasi itu sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

"Berkenaan dengan hal tersebut, kami harapkan Bapak melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika dapat menghapus aplikasi tersebut dari Play Store Google dan menghindari kemungkinan munculnya aplikasi sejenis di kemudian hari," kata Irwan.

Tembusan surat tersebut disampaikan kepada Kapolri, Jaksa Agung, Kepala Badan Intelejen Negara, Ketua DPRD Sumbar, Kapolda Sumbar, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar, Danrem 032 Wirabraja, Danlantamal II, Danlanud Sutan Sjahrir, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, Ketua MUI Sumbar dan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM).

Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar menilai, aplikasi Injil berbahasa Minang bisa memicu polemik berbau suku agama ras dan antargolongan (SARA) jika didiamkan. Karena itu, pihaknya juga mendukung penghapusan aplikasi tersebut.

Anggota DPRD Sumbar Arkadius juga mendukung pencabutan aplikasi tersebut karena tak sesuai dengan falsafah Minang. Selain itu, ia melihat ada upaya pemurtadan di balik pembuatan dan penyebaran aplikasi itu.

Ketua LKAAM Sayuti memandang, aplikasi Injil berbahasa Minang tak sesuai dengan falsafah Minang. Ia menegaskan, orang Minang pasti beragama Islam. Orang Minang yang murtad tidak lagi disebut orang Minang dan hak gelar adat dan pusakonya hilang.

"Mereka boleh saja menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Minang untuk orang yang dulunya Minang yang pindah ke agama Kristen. Namun, dalam kata pengantar terjemahan itu harus dituliskan bahwa Injil itu untuk kalangan mereka sendiri, bukan untuk orang Minang beragama Islam," kata Sayuti.

"Yang kami tidak setuju adalah menyebarkan dan mempublikasikan terjemahan itu untuk umum, yang berarti ada tujuan tertentu, yakni memperluas agamanya untuk orang Minang," tuturnya.

Sayuti pun meminta orang yang membuat dan menyebarkan aplikasi itu segera meminta maaf kepada masyarakat Minang, karena sudah membuat resah.

Di sisi lain, intelektual dan sastrawan muda Sumbar, Heru Joni Putra, punya pendapat tentang terjemahan kitab suci ke dalam bahasa Minang.

Dikatakan, ketika Alquran diterjemahkan ke bahasa Minang, bahasa Minang tak punya perkakas yang banyak untuk menampung apa yang disebut kesakralan Alquran.

"Begitu juga ketika saya membaca terjemahan Injil ke bahasa Minang, saya merasa terjemahannya juga jadi cerita lucu. Lihat misalnya terjemahan Markus 1.11: Kudian tadangalah suaro Allah mangatoan, 'Angkaulah Anak-Den, nan Den kasiahi. Angkaulah anak nan manyanangan ati Den'," ujarnya. (*)



Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: CNNIndonesia
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version