x
Indra Muchlis Jawab Keraguan Dengan Kebijakan Pro Rakyat

Indra Muchlis Jawab Keraguan Dengan Kebijakan Pro Rakyat

Senin, 10 Desember 2012, 10:16:11
Menjelang berakhir jabatan Indra Muchlis Adnan dua periode sebagai Bupati Indragiri Hilir, September 2013 mendatang, sederet prestasi gemilang berhasil diukir pria kelahiran Teluk Pinang tahun 1966 silam dalam upayanya meningkatkan perekonomian masyarakat Negeri Seribu Jembatan dengan berbagai program pembangunan yang pro rakyat.

Desa terisolir, rendahnya sumber daya manusia, minimnya sarana pelayanan kesehatan dan infrastruktur menjadi potret kehidupan masyarakat saat dirinya dipilih anggota DPRD Inhil tahun 2004 menjadi bupati. Setelah resmi dilantik, cibiran serta keraguan dari 600 ribu penduduk yang mendiami 20 kecamatan dan hampir 200 desa, mewarnai awal perjalanannya memimpin kabupaten yang 75 persen warganya merupakan petani kelapa rakyat.

Namun, bagi Pak Jenggot, panggilan akrab warga kepada Indra Muchlis Adnan, cibiran serta keraguan itu dinilai wajar, apalagi saat itu warga tidak memiliki hak langsung untuk memilih pemimpinnya. Kemudian, sebelum menjadi Bupati, Indra lebih banyak menghabiskan waktu di negeri orang untuk menuntut ilmu, sehingga kehadirannya kurang dikenal masyarakat.

"Keraguan warga itu menjadi dasar motivasi saya untuk membangun Inhil ke arah yang lebih baik," kata Indra waktu itu. Melanjutkan kepemimpinan Rusli Zainal yang saat ini Gubernur Riau untuk membangun kampung halaman, bagi Indra bukanlah persoalan mudah. Selain memiliki tanah gambut, jarak desa yang satu dengan yang lain cukup jauh dan dipisahkan dengan sungai-sungai kecil. Kondisi geografis yang memisahkan antara desa dengan parit membutuhkan sarana jembatan untuk menghubungkannya.

Dari 20 kecamatan, lebih setengah di antaranya tidak bisa dilewati jalur darat. Belum lagi persoalan pelayanan kesehatan masyarakat dan rendahnya sumber daya manusia menjadi masalah mendasar di Kabupaten Inhil waktu itu. "Bagi saya, Pak Rusli (Bupati Inhil 1999-2004) cukup berhasil membangun pondasi dasar selama menjabat Bupati, sekarang ini menjadi tugas saya untuk melanjutkannya," kata suami Hj Syafni Zuriyanti SH,MH ini.

Karena persoalan begitu komplik, usai dilantik, Indra tak mau duduk manis di kantor. Dia mulai berkelana dari satu desa ke desa lain. Tak jarang dia harus menginap di rumah warga untuk mengetahui kondisi ril daerah yang dipimpinnya. Kondisi ini berlangsung cukup lama, hingga hampir semua desa didatanginya untuk menerima masukan dari masyarakat terkait kebijakan yang akan dilakukannya ke depan. Seiring berjalannya waktu, apa yang dikhawatirkan masyarakat terhadap kepemimpinannya, perlahan-lahan mulai pudar.

Indra ternyata sangat bersahaja, tidur di rumah warga saat melakukan kunjungan ke desa-desa bukanlah hal yang menakutkan. Makan di kedai emperan menjadi menunya sehari-hari. Mendengarkan keluhan warga secara langsung, baginya lebih puas dan lengkap dibanding menunggu laporan dari bawahannya. Bercengkrama dengan warga, merasakan pahitnya hidup di pedesaan dengan kondisi serba terbatas, membuatnya lebih peka dan memahami apa yang diinginkan masyarakat sebagai bahan untuk mengambil kebijakan. Kendati demikian, tetap saja selama perjalanan kepemimpinannya, keraguan dan cibiran itu datang dari sekelompok orang yang tak menyukai dirinya, termasuk lawan politik.

Mengatasi masalah terisolasi, menjadi kebijakan awal yang dilakukan Indra, termasuk membangun jembatan permanen yang menghubungkan ibukota Inhil, Tembilahan dengan sejumlah daerah lainnya. Banyaknya jembatan penghubung yang roboh terbuat dari kayu akibat termakan usia harus disikapi secepatnya.

"Ratusan jembatan sudah kita bangun, baik melalui APBD Inhil, bantuan dari Pemprov Riau maupun dari pemerintah pusat. Ini masalah mendasar yang mampu mengatasi keterisolisar sejumlah desa. Dengan dibangunnya jembatan permanen, pembangunan lainnya akan mudah dilakukan di desa itu," kata HM Nasir, Kadis PU Inhil waktu itu. Berhasil membangun jembatan, sekitar tahun 2010, Pemkab Inhil juga melakukan perubahan terhadap slogan daerah yang awalnya Negeri Seribu Parit menjadi Negeri Seribu Jembatan.            

Tahun 2005 atau satu tahun kepemimpinannya, Indra mulai melakukan terobosan dengan membuat kebijakan pro rakyat, sesuai visi dan misinya menjadi Bupati. Pembangunan yang selama ini masih tertuju di daerah perkotaan, mulai dirobah dengan meluncurkan program Desa Mandiri. Teknis dari program ini, setiap desa diberi kewenangan penuh untuk melakukan perencanaan hingga pelaksanaan untuk membangun desa mereka. Pemerintah daerah hanya bertutugas melakukan pengawasan agar anggaran yang diberikan tepat sasaran.   

"Pembangunan harus diawali dari desa, ini harus dilakukan untuk menjawab keluhan masyarakat pedesaan," kata Indra. Sebelum meluncurkan program Desa Mandiri, pria yang menamatkan gelar doktornya di Universitas Utara Malaysia itu mulai melakukan kajian bersama tim ahli pemberdayaan desa Universitas Islam Indonesia di Jagyakarta. Kemudian melakukan kajian ke sejumlah daerah di pulau Jawa hingga melakukan komparasi di sejumlah daerah di Cina. Tahap awal, memberikan dana sebesar masing-masing Rp500 juta ke lima desa, di antaranya, Desa Kuala Patah Parang, Khairiah Mandah, Bolak Raya.

Hasilnya luar biasa, bukan hanya infastruktur yang terbangun, dana itupun juga kembali bergulir lewat program pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dicanangkan. Sampai tahun 2012 ini, setiap tahun Pemkab Inhil menganggarkan dana sekitar Rp65 miliar untuk program Desa Mandiri.

Mulai edisi ini, setiap Senin akan dipaparkan keberhasilan pembangunan yang dilakukan Dr H Indra Muchlis Adnan selama menjabat Bupati, menjelang berakhir masa jabatannya, September 2013 mendatang. (hrc/satria donald)
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version