x
Ketika Berembang Menjawab Bimbang
KMP Berembang, (Foto:Istimewa)

Ketika Berembang Menjawab Bimbang

Jumat, 23 Agustus 2019, 17:33:08
Oleh: Syafrizal

Di akhir periode kedua kepemimpinan Bupati Irwan, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau masih saja terisolasi. Jalan Alai-Mengkikip yang menjadi akses utama jalur darat menuju Pulau Sumatera, sampai sekarang masih belum berfungsi.

Bukan tak ada upaya Pemda Kepulauan Meranti membuka keterisoliran Kota Sagu. Sejak awal pemekaran, sudah disiapkan mimpi besar untuk membuka akses antar pulau dan menuju daratan Sumatera.

Berdasarkan data yang pernah dirilis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepulauan Meranti, dulu, tahun 2015 setidaknya ada 11 jalan utama yang diprioritaskan untuk dibangun di seluruh pulau dengan biaya terbilang cukup besar. Di antaranya, Jalan Bandul-Tanjungpadang sepanjang 38,2 kilometer dengan biaya Rp705 miliar.

Jalan Mengkopot-Bandul sepanjang 29,5 kilometer yang membutuhkan biaya Rp504 miliar. Jalan Meranti Bunting-Belitung sepanjang 16,6 miliar dengan biaya Rp172 miliar. Jalan Lukit-Meranti Bunting sepanjang 18 kilometer dengan biaya Rp 314 miliar.

Jalan Lingkar Pulau Merbau sepanjang 98,97 kilometer yang menelan biaya Rp 1,8 triliun. Jalan Bantar-Tanjung Kedabu sepanjang 69,4 kilometer dengan biaya Rp 1,25 triliun. Jalan Tanjungsamak-Tanjung Kedabu sepanjang 40,2 kilometer yang menghabiskan biaya Rp 738 miliar.

Jalan Tanjungsamak-Repan sepanjang 35 kilometer dengan biaya Rp 643 miliar. Jalan Melai-Kedaburapat sepanjang 15 kilometer menghabiskan biaya Rp 270 miliar. Jalan Alai-Mengkikip sepanjang 46,7 kilometer membutuhkan biaya Rp 644 miliar dan Jalan Lukun-Sungaitohor sepanjang 23 kilometer dengan biaya Rp 423 miliar.

Jika jalur ini terbangun sempurna, tentu akses antar pulau di Kota Sagu telah tersambung satu sama lain. Untuk memaksimalkan konektivitas seluruh pulau, rencananya akan dibangun 4 jembatan, 7 RoRo dan 15 pelabuhan.

Empat jembatan dimaksud adalah Jembatang di Sungai Suir (menghubungkan Pulau Tebingtinggi yang terpisah Sungai Suir), Jembatan Selat Rengit (JSR) yang akan menghubungkan Pulau Tebingtinggi (tepatnya di bagian barat di Desa Mekong) dengan Pulau Merbau. Lalu dari Pulau Merbau menuju Pulau Padang akan dibangun jembatan dari Teluk Ketapang ke Pelantai serta Jembatan Futong yang menghubungkan Pulau Tebingtinggi dengan Pulau Sumatera.

Sayangnya, ekspektasi seringkali tak sejalan dengan realita. Karena realita di lapangan, membangun di wilayah berpulau tidaklah mudah. Dari empat jembatan itu saja, diperkirakan menelan biaya Rp 8,35 triliun. Dengan rincian, JSR Rp 460 miliar, Jembatan Futong Rp 4,5 triliun, Jembatan Teluk Ketapang Rp 3,05 tiliun dan Jembatan Sungai Suir Rp 340 miliar.

Itu baru jembatan. Belum lagi biaya membangun fasilitas penyeberangan RoRo dan pelabuhan (dermaga). Pelabuhan penyeberangan (RoRo) yang rencananya akan dibangun adalah Dakal Meranti-Ketam Putih Bengkalis diperkirakan memakan biaya Rp 43,7 miliar, Lukit Meranti-Buton Siak Rp 73,6 miliar, Tanjung Sari-Tanjungsamak Rp 45 miliar dan Insit-Pecah Buyung Rp44,7 miliar.

Biaya tersebut, sudah tentu berubah jika disesuaikan dengan harga barang atau kebutuhan pembangunan saat ini. Untuk pelabuhan penyeberangan RoRo Insit - Pecah Buyung saja, dibangun masing-masing berkisar antara Rp 50 miliar hingga Rp 55 miliar. Belum lagi biaya untuk pengadaan armadanya.

Intinya, hitungan kasar untuk membuka keterisoliran Kepulauan Meranti yang memiliki luas wilayah 6.822,85 KM (daratan 3.598,06 KM2 dah laut 3.224,79 KM2) dibutuhkan biaya yang sangat banyak, yaitu lebih Rp 10 triliun. Tidak akan kuat jika menganggarkan APBD Kabupaten Kepulauan Meranti yang hanya Rp1,4 triliun (RAPBD 2020), yang pada awal pemekaran (APBD nya) kurang dari Rp 1 triliun.

Keluhan itu berkali-kali disuarakan Bupati Irwan. Ia berharap pemerintah pusat dan provinsi memberi perhatian lebih ke kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Riau ini. Harapan itu pun telah diutarakan Irwan ke Gubergur Riau Syamsuar.

Alhasil, 4 jembatan belum terbangun hingga Agustus 2019. Beberapa ruas jalan utama dan pelabuhan, pun belum terbangun sebagaimana diharapkan. Jalan yang hingga saat ini belum tuntas dikerjakan dengan berbagai faktor penghambat (alam maupun regulasi) di antaranya Jalan Alai-Mengkikip dan Jalan Lukun-Seitohor.

Jalan Alai-Mengkikip terhambat oleh tebalnya gambut dan labilnya tanah. Sedangkan jalan lintas Lukun-Sei Tohor, melewati kawasan konsesi perusahaan PT National Sago Prima dan hutan belantara.

Padahal, Jalan Alai-Mengkikip ini adalah andalan Kota Sagu menuju ke daratan Pulau Sumatera. Sebab, di ujung Pulau Tebingtinggi bagian barat, tepatnya di Kampung Balak, telah terbangun pelabuhan penyeberangan RoRo. Rutenya, Kampung Balak ke Tanjung Buton, Siak dan sebaliknya.

KMP Berembang nama RoRo nya. Meliliki mesin 2 x 823 dengan kecepatan 12 knot. RoRo KMP Berembang mampu mengangkut 25 mobil, 100 sepeda motor, dan beroperasi sebanyak 3 kali dalam sehari.

RoRo KMP Berembang ini diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Riau, H M Rusli Zainal SE MP tanggal 3 Desember 2012 silam. Sejak diresmikan itu, hingga sekarang, RoRo berbobot 724 GT ini masih hilir mudik dari Tanjung Buton ke Kampung Balak. Operasional RoRo yang dikelola BUMD Riau Invesment Corporate masuk kategori RoRo perintis dan masih disubsidi oleh kementerian Perhubungan.

Keberadaan RoRo KMP Berembang rute Tanjung Buton - Kampung Balak, tak berdampak maksimal kepada Kepulauan Meranti. Kabupaten termuda di Riau yang berjarak sekitar 99,6 kilometer dari Batu Pahat Malaysia ini tetap saja terisolir.

Kondisi ini diperparah dengan semakin memburuknya akses jalan lintas Alai - Mengkikip. Jalan andalan menuju Pulau Sumatera hanya sebentar bisa dilewati kendaraan. Makin hari, makin memburuk, bak sungai di atas daratan.

Sejauh ini, Jalan Alai - Mengkikip tak bisa dilewati kendaraan roda empat. Padahal Sudah lebih Rp 100 miliar dana dikucurkan oleh pemerintah Provinsi Riau untuk membangun jalan Alai - Mengkikip ini.

Kondisi medan bergambut tebal, serta adanya tanah labil, menyebabkan pembangunan terhambat. Sudah lebih 4.000 kubik batu yang ditimbun di lokasi tanah labil tersebut. Hilang tak berbekas, ditelan bumi.

Bahkan, di lokasi tanah yang labil itu, pernah ada sepeda motor warga tersedot lumpur hingga masuk ke perut bumi. Hilang, tak berhasil ditemukan ketika dicari.

Tapi, khusus penumpang (orang dengan barang bawaan seadanya) memang ada kesempatan sebanyak 2 kali dalam sehari (pagi dan siang) untuk menuju daratan Pulau Sumatera, Tanjung Buton Siak. Menggunakan speedboat maupun feri. Sementara transportasi untuk membawa kendaraan roda dua dan roda empat menyeberang pulau, masih sangat terbatas. Masih menggunakan kempang atau kapal kargo milik pengusaha lokal. Itu pun biayanya harus merogoh saku dalam-dalam.

Keterisoliran itu berlanjut hingga Kepulauan Meranti memasuki usia ke 10 tahun. Bulan Mei 2019, mimpi keluar dari keterisoliran mulai menampakkan titik terang. Ada rencana Pemda mengusahakan rute KMP Berembang yang semula dari Buton ke Kampung Balak, akan berlayar sampai ke Insit, Tebingtinggi Barat. Wacana itu ditunjang dengan telah siapnya pembangunan Pelabuhan RoRo Insit - Pecah Buyung Rangsang Barat.

Bupati Irwan MSi berharap, RoRo sudah bisa berlayar sampai ke Insit sebelum Idul Fitri 1440 H, tahun 2019. Kabar gembira ini beberapa kali disampaikan secara resmi oleh Bupati Irwan dan wakilnya Said Hasyim.

Masyarakat menyambut gembira. Ramai yang bertanya, kapan jadwal pastinya. Hari apa dan jam berapa (keberangkatan RoRo dari Insit ke Tanjung Buton). Ramai yang ingin membawa kendaraan roda empat ke Kota Sagu.

Namun informasi tentang kepastian keberangkatan sempat membuat warga bimbang. Tak ada tanggal pasti keberangkatan RoRo diumumkan secara resmi. Kondisi ini pun mendapat reaksi dari Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, Dedi Putra SHI. Politisi PPP itu berharap info pengoperasian RoRo Insit ke Tanjung Buton jangan sampai mengecewakan masyarakat. Karena, memang saat itu sekitar Mei 2019, izin trayek belum keluar. Ditambah belum maksimalnya akses jalan keluar masuk pelabuhan. Perlu ditingkatkan karena masih dalam keadaan dibase.

Berkat keinginan yang kuat, usaha yang tak kenal lelah, serta doa masyarakat Kepulauan Meranti, izin trayek Insit - Tanjung Buton Siak berhasil dikantongi. RoRo KMP Berembang berangkat perdana pada tanggal 1 Juni 2019. Pelepasan uji coba RoRo dengan jalur Insit - Tanjung Buton ini ditandai dengan pemotongan pita oleh Wakil Bupati Said Hasyim.

Hadir juga menyaksikan Sekretaris Daerah H Yulian Norwis SE MM, Kapolres Meranti AKBP La Ode Proyek, Anggota DPRD Meranti M Tartib, dan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Riau M. Toufik disaksikan Kepala Dinas Perhubungan Meranti Dr. Aready, Danramil Selatpanjang Mayor TNI Irwan, Direktur Ops PT RIC Ade Gunawan, Ketua MUI Meranti Mustafa SAg, Perwakilan Bea Cukai, Perwakilan Posal, Asisten III Sekda Drs H Rosdaner, Kabag Humas dan Protokol Meranti Hery Saputra SH dan sejumlah pejabat lainnya.

Rasa bimbang terjawab. Menjelang hari raya Idul Fitri 1440 H, KMP Berembang berhasil berlayar dan telah beberapa kali membawa penumpang beserta kendaraan.

Meski telah melayani keberangkatan, pasca lebaran, KMP Berembang ini belum punya jadwal tetap berangkat dari Insit - Tanjung Buton atau sebaliknya. Sebab, menurut Kepala Dishub Kepulauan Meranti DR Aready, sebelum beroperasi penuh, pelabuhan RoRo terlebih dahulu harus melalui uji pembebanan MB. Uji Pembebanan MB oleh Balain Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah IV Provinsi Riau dan Provinsi Kepri, Kementerian Perhubungan.

Nantinya, RoRo KMP Berembang (Rute Insit - Tanjung Buton) akan terus digunakan menjelang Jalan Alai - Mengkikip selesai dibangun. Sementara rute Insit - Pecah Buyung, armadanya baru akan disiapkan pada tahun 2020.

Infonya, armada RoRo tambahan ubtuk rute Insit - Pecah Buyung ini memiliki bobot sekitar 300 GT. Pengadaan armada sesuai dengan kebutuhan penumpang dan kendaraanya. "Kementerian Perhubungan sudah punya standar. Kita menunggu saja," kata Aready.

Aready optimis, kedepannya keterisoliran Kepulauan Meranti akan berakhir. Jika RoRo di Sagu-sagu Lukit Pulau Padang - Tanjung Buton yang saat ini masuk ke tahap pengerjaan konstruksi selesai dibangun. Jika RoRo Dakal - Ketam Putih sedang dalam tahap melengkapi dokumen yang diminta Kementerian Perhubungan itu selesai dibangun. 

Jika pelabuhan penyeberangan RoRo Tanjung Peranap - Sungai Rawa yang sedang dalam tahap perencanaan selesai dibangun, kelak. Selain itu, juga akan dibuka akses jalan darat dari Tanjung Peranap menuju Tanjung Sari Tebingtinggi Timur, lalu ke Tanjung Samak. Jika akses darat ini selesai dibangun, tak hanya akan membuka akses ke Pulau Sumatera, tetapi juga ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Katanya, untuk mempercepat pembangunan atau konektivitas antar pulau, memang harus seiring dengan kementerian. Kementerian membangun, kita juga membangun. "Hanya saja kita terbentur dana," kata Aready di akhir bincang-bincang Kamis siang itu. (*)





Penulis adalah wartawan FokusRiau.Com di Meranti
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version