x
Lembah Harau, Surganya Kupu-Kupu

Lembah Harau, Surganya Kupu-Kupu

Selasa, 15 Januari 2013, 19:33:05
Oleh: Ali Hasan S.Sos*

Kenalkah anda dengan Papilio Karna? Bagi pecinta kupu-kupu tentulah sangat mengenal kupu-kupu cantik jenis ini. Namun tahukah anda kalau di Pulau Sumatera, spesies ini hanya ada di Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota ? Dan tahukah anda kalau populasi kupu-kupu telah semakin menurun di Lembah Harau yang dulu menjadi surga kupu-kupu. Dan yang menyedihkan, menurunnya populasi kupu-kupu akibat perluasan ladang gambir?

Adalah Bujang Ranuli, lelaki paruh baya yang menaruh perhatian besar terhadap kupu-kupu. Putra asli Harau ini memiliki sebuah pusat penangkaran kupu-kupu di rumahnya di Jorong Harau Nagari Harau. Penangkaran ini dibangun pada tahun 1997 dengan biaya sebesar Rp 7.000.000,-. Meskipun baru membangun pusat penangkaran pada tahun 1997, namun tiga tahun sebelumnya pak Ujang telah memiliki penangkaran dalam skala kecil. Diakui pak Ujang, semasa kecilnya dulu, beliau telah tertarik untuk mengamati kupu-kupu.

“Dulu banyak sekali kupu-kupu dengan berbagai macam spesies beterbangan bebas di daerah Harau”, kenang lelaki kelahiran Jorong Lubuak Limpato, 7 Juli 1956 ini. Namun sejak maraknya pengalihan fungsi hutan menjadi ladang gambir pada awal tahun 2000an, hutan yang semakin terang membuat kupu-kupu enggan untuk berkembang biak di Harau.

Tahun 1974, ayah lima orang anak ini berkenalan dengan Kaim, seorang kolektor kupu-kupu yang berdomisili di Padang. Perkenalan mereka terjadi di daerah Lembah Anai. Diantara kesibukannya sebagai pedagang durian, pak Ujang sering melihat Kaim memasuki hutan Lembah Anai untuk menangkap kupu-kupu. Teringat pengalaman masa kecilnya di Harau, dalam interaksinya dengan Kaim, pak Ujang mendapatkan banyak pengetahuan tentang kupu-kupu.

Tahun 1977 pak Ujang menikah dengan Ibu Yet dan memutuskan untuk kembali ke Harau. Mengetahui hal tersebut, Kaim dan Widado, rekan sesama kolektor yang berdomisili di Padang Panjang sering mengunjungi pak Ujang di rumahnya. Mereka berdua membagi ilmu tentang kupu-kupu kepada pak Ujang dan menyarankan beliau untuk mulai memulai usaha kupu-kupu.

Tahun 1990an, peneliti dari Universitas Andalas (Unand) dan luar negeri mulai mengenal sosok pak Ujang. Mesti diakui oleh pak Ujang, beliau sempat berhenti dari usahanya sebagai pemasok kupu-kupu bagi bisnis kupu-kupu dan kolektor, dengan semakin banyaknya permintaan, pak Ujang memutuskan untuk kembali menekuni usaha ini. Peneliti dari Jepang dan Cheko merupakan tamu tetap di kediaman pak Ujang untuk mempelajari spesies kupu-kupu di Lembah Harau.

Para peneliti ini mengenal pak Ujang dari Kaim dan Widado, yang mengimpor kupu-kupu dari Lembah Harau ke luar negeri. Sedangkan peneliti dari Unand meminta pak Ujang menyediakan kupu-kupu dari setiap spesies yang bisa ditemui di Harau untuk kepentingan penelitian. “Para peneliti tersebut tinggal di sini selama beberapa hari. Bahkan ada peneliti dari Unand menetap hingga 3 bulan”, cerita pak Ujang. Meski pun begitu, untuk mengenal spesies kupu-kupu, pak Ujang mempelajarinya dari buku-buku yang dibawakan oleh Mr. Stanley, seorang peneliti dari Cheko yang rutin datang sejak tahun 1990.

Medio 1997, dosen Unand bekerja sama dengan BKSDA di Harau berkomitmen memberikan bantuan dana kepada pak Ujang untuk memulai usaha penangkaran kupu-kupu. Usaha penangkaran ini merupakan usaha untuk mengembangkan populasi kupu-kupu secara lebih intens. “Populasi kupu-kupu di Lembah Harau jauh berkurang sejak lima tahun terakhir. Penangkaran merupakan solusi untuk menjaga kelestarian spesies kupu-kupu dan mendapatkan kupu-kupu secara berpasangan”, tegas pak Ujang.  Meskipun banyak dibantu oleh Unand, namun pak Ujang juga sempat merasakan kekecewaan terhadap peneliti dari Unand.

Dikisahkan pak Ujang, ada seorang dosen yang datang untuk belajar tentang kupu-kupu kepadanya. Peneliti ini akhirnya mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jepang, dan ketika kembali ke Indonesia, beliau menulis sebuah buku tentang kupu-kupu. Beliau mendatangi pak Ujang dan menyerahkan sebuah buku karangannya. “Tidak ada nama Harau tertulis di buku tersebut. Padahal beliau menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari kupu-kupu di Lembah Harau ini”, raut pak Ujang menyiratkan kekecewaannya. Namun pak Ujang tetap membagikan ilmunya kepada siapa pun yang berminat mempelajari kupu-kupu. Apalagi usia yang bertambah membuat pak Ujang tidak lagi sanggup untuk keluar-masuk hutan untuk berburu kupu-kupu.

Selain menjadikan kupu-kupu sebagai sumber penghasilan, pak Ujang juga mengoleksi kupu-kupu. Deretan frame berisi berbagai jenis kupu-kupu menghiasi dinding ruang tamunya. “Saya tertarik menjadi kolektor kupu-kupu karena tertarik melihat koleksi teman-teman sesama kolektor. Apalagi koleksi mereka juga berasal dari luar negeri”, jelas pak Ujang. Untuk menambah koleksinya, pak Ujang melakukan barter dengan sesama kolektor. Selain memiliki koleksi kupu-kupu dari Harau, koleksi pak Ujang juga berasal dari Sulawesi dan Irian Jaya, hasil barter dengan kolektor dari kedua pulau tersebut.

Menurut pak Ujang, perbedaan spesies kupu-kupu di tiap daerah dimungkinkan oleh perbedaan suhu daerah. Seperti Papilio Karna, kupu-kupu indah yang hanya ada di Lembah Harau. “Banyak permintaan kolektor untuk kupu-kupu jenis ini”, sebut pak Ujang. Meski pun ada di daerah Jawa, namun berbeda dengan spesies di Harau. Pak Ujang sangat mengenal kupu-kupu spesies ini. Bahkan di tempat penangkarannya, pak Ujang membudidayakan Aristolochea, sejenis tanaman berbentuk akar yang sangat disukai oleh kupu-kupu. Papilio Karna pun bertelur di pohon jenis ini.

Dalam Wikipedia diterangkan, kupu-kupu merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera atau serangga bersayap sisik. Secara sederhana, kupu-kupu berbeda dari ngengat atau kupu-kupu malam dibedakan berdasarkan waktu aktifnya. Kupu-kupu umumnya aktif di siang hari, sedangkan kebanyakan ngengat aktif di malam hari. Kupu-kupu beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya.

Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, berbeda dengan ngengat yang berwarna gelap, kusam, atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada pengecualiannya, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti. Ukuran kupu-kupu betina jauh lebih besar daripada kupu-kupu jantan. Begitu pun dengan perbedaan siklus hidup. Kupu-kupu jantan dapat hidup lebih lama dari kupu-kupu betina, yang langsung mati tak lama setelah bertelur.

Menurut pak Ujang, kupu-kupu dapat hidup di suatu daerah dengan populasi bunga yang banyak untuk dihisap madunya dan ada tempat untuk bertelur yang berbeda untuk masing-masing spesies. Tanaman yang biasanya menjadi tempat induk kupu-kupu meletakkan telurnya adalah tanaman yang berbentuk akar, pohon ulam, dan batang sicerek. “Jika ingin mendatangkan banyak kupu-kupu, syaratnya hanyalah menanam pohon-pohon kesukaan kupu-kupu.

Jika sudah mengetahuinya, maka kupu-kupu akan datang sendiri untuk bertelur”, ungkap pak Ujang. Hal ini disebabkan karena kupu-kupu memiliki naluri yang tajam untuk mendeteksi keberadaan tanaman untuk bertelur. Setiap induk kupu-kupu bisa menghasilkan telur hingga 100 buah dengan kemungkinan hidup 50 persen sampai 75 persen. Setelah proses kawin, kupu-kupu betina bisa meletakkan 15-20 telur selama seminggu.

Selain memiliki penangkaran, dahulu pak Ujang terbiasa memasuki hutan di Harau untuk berburu kupu-kupu. Alat yang digunakan tergolong sederhana dan mudah didapat. Yaitu sebuah jaring dengan tongkat sepanjang 2,5 meter-5 meter dan kotak untuk menempatkan hasil buruan. Di dalam kotak tersebut disediakan lembaran kertas minyak untuk menempatkan kupu-kupu.

Jika ingin berburu kupu-kupu, jam 08.00-13.00 WIB merupakan waktu terbaik. “Namun ada juga peneliti yang khusus tertarik meneliti ngengat pada malam hari”, ungkap pak Ujang mengingat pengalamannya menemani peneliti melakukan riset di hutan-hutan Nagari Harau.

Ada fakta menarik yang diungkapkan oleh pak Ujang. Selain untuk mengembangbiakkan kupu-kupu, penangkaran juga penting dilakukan untuk mendapatkan kupu-kupu yang berpasangan. “Biasanya jika penangkapan kupu-kupu dilakukan dengan cara mengumpan, sangat jarang kupu-kupu jenis betina yang ditangkap”, jelas pak Ujang. Kupu-kupu betina selalu terbang tinggi dan menghisap madu bunga sebagai makanannya. Umpan yang dipakai untuk menangkap kupu-kupu adalah makanan busuk yang dicampurkan dengan tanah dan ditaruh di atas batu, kotoran yang ditaruh di pasir, dan buah-buahan asam yang telah membusuk. Musim hujan merupakan masa bertelur bagi kupu-kupu, meskipun kupu-kupu betina tidak banyak yang terbang bebas di alam. “Sedangkan pada musim kemarau, jumlah ulat akan berkurang dan butuh usaha untuk mengumpan kupu-kupu di pinggir sungai”, jelas pak Ujang.

Disebutkan pak Ujang, Polyura Dehani merupakan jenis kupu-kupu langka yang hidup di kawasan Gunung Sanggul. Sampai sekarang pak Ujang tidak mengetahui tanaman tempat kupu-kupu spesies ini bertelur. “Jika ada yang bisa menangkap Polyura Dehani, setiap kolektor sanggup membayar mahal”, terang pak Ujang yang berpenghasilan rata-rata Rp 700.000,- setiap bulan dari kupu-kupu. Bisnis kupu-kupu memang menjanjikan. Untuk sepasang atau tiga buah kupu-kupu yang ditaruh di kotak kayu, pak Ujang menghargainya Rp 75.000,- hingga Rp 150.000,-. Kotak kayu itu juga dilengkapi dengan kapur barus, untuk menghindari kerusakan dari semut.

Selama kapur barus tersebut masih ada, kupu-kupu bisa awet hingga puluhan tahun. Untuk mengembangkan sayap kupu-kupu, alat yang dibutuhkan adalah kayu, jarum pentul, busa, dan plastik. Setelah 3-4 hari, kupu-kupu bisa dimasukkan ke dalam kotak dan siap untuk dijual. Selain kupu-kupu normal, kupu-kupu abnormal dengan dua jenis kelamin pun dihargai mahal. Namun pak Ujang belum pernah menemukan kupu-kupu jenis ini. Meski pun spesies kupu-kupu di Harau lebih kaya, namun harga untuk kupu-kupu yang hidup di Gunung Sanggul lebih mahal. Diperkirakan oleh pak Ujang, hal ini disebabkan karena medan yang lebih berat dan kelangkaan spesies di tempat tersebut.

Selain kupu-kupu, pak Ujang juga memiliki ketertarikan terhadap kumbang. “Berbeda dengan kupu-kupu,ukuran kumbang betina lebih kecil daripada kumbang jantan”, sebut pak Ujang membagi ilmunya. Menurutnya lagi jika kumbang memiliki panjang di atas 13 cm, maka kolektor rela merogoh kocek dalam-dalam. Namun sayangnya, pak Ujang belum menguasai ilmu tentang kumbang. Meski pun begitu, pak Ujang telah sanggup memproduksi mainan kunci dengan mengembangkan kumbang.

Sebelumnya pak Ujang belajar dari temannya yang berasal dari Palembang. Berkat keahliannya tersebut, pak Ujang diundang oleh Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan UKM untuk memberikan pelatihan kepada sejumlah anak muda Nagari Harau. Dari sekitar 15 orang peserta, hingga kini masih ada lima orang yang masih aktif memproduksi mainan kunci ini.

Keluarga pak Ujang tidak sepenuhnya menyukai pekerjaan sampingannya ini. Meski pun dari pekerjaannya menggeluti kupu-kupu, pak Ujang sanggup membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya hingga tingkat SMA dan STM. Pak Ujang dan Ibu Yet, istrinya, memiliki lima orang anak. Namun hanya anak ketiga dan keempatnya yang tertarik dengan kupu-kupu. Pia (29 tahun) anak ketiga pak Ujang mengaku baru menyukai kupu-kupu belakangan ini. Pialah yang selama ini membantu pak Ujang untuk berkomunikasi dengan peneliti dari luar negeri. Sedangkan anak keempatnya yang berjenis kelamin laki-laki membantu pak Ujang membuatkan kotak-kotak kayu untuk menyimpan kupu-kupu. “Namun, kami masih terkendala masalah dana”, ungkap Pia.

Bukan urusan mudah karena meskipun telah mendapatkan bantuan dari Unand untuk membangun tempat penangkaran, namun sekarang pak Ujang membutuhkan tambahan dana untuk membangun penangkaran yang baru. Pak Ujang dan keluarganya juga membutuhkan dana untuk membuat kotak-kotak kayu sebagai wadah kupu-kupu. Selama ini pak Ujang tidak pernah mempublikasikan usaha penangkarannya kepada pemerintah daerah, sehingga tidak pernah mendapatkan sokongan modal usaha. Jorong Harau tempat usaha dan keluarga pak Ujang tinggal memang berjarak 5 kilometer dari pusat pemerintahan. Untuk mencapai tempat pak Ujang, jalan yang ditempuh adalah jalan berbatu. Jaringan telekomunikasi di tempat ini pun belum memadai seperti di daerah lain.

Selain terkendala masalah dana, pak Ujang juga tidak menguasai bahasa asing dan internet. Padahal menurutnya, jika kedua hal ini bisa dikuasainya, kupu-kupu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Selama ini pak Ujang banyak dibantu oleh anaknya untuk berkomunikasi dengan peneliti asing, atau para peneliti ini telah membekali dirinya dengan kemampuan berbahasa Indonesia. “Tidak ada gunanya saya menyesali kekurangan”, ungkap pak Ujang tersenyum. Baginya bisa berbagi ilmu dengan orang-orang yang juga menyukai kupu-kupu adalah kebanggaan.

Harapan pak Ujang sekarang adalah Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki taman kupu-kupu dan usaha penangkarannya dapat lebih berkembang. “Nagari Harau merupakan tempat yang ideal untuk dijadikan taman kupu-kupu”, kata pak Ujang. Bahkan pak Ujang bersedia membagi ilmunya untuk membangun tempat yang terbaik untuk kupu-kupu. Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota sebaiknya juga merespon harapan pak Ujang ini.

Mengingat populasi kupu-kupu di Harau terus menurun sejak lima tahun terakhir dan kekayaan ragam spesies kupu-kupu yang dimiliki Kabupaten Lima Puluh Kota, tentu akan lebih baik jika ada taman dan museum kupu-kupu. Apalagi keberadaan taman dan museum kupu-kupu ini akan mampu memperkaya objek wisata di Lembah Harau. Selain itu, pak Ujang juga berharap Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki satu jenis kupu-kupu sebagai maskot daerah. Seperti Kota Padang Panjang yang telah memilih Papilio Memnon sebagai spesies kupu-kupu yang mewakili daerahnya.

Selama ini, pak Ujang menjadi pemasok kepompong untuk taman kupu-kupu di komplek Taman Satwa Kandi, Sawahlunto. Setiap bulan, pak Ujang diminta mengirimkan 75 kepompong ke sana. Berkat pengalamannya bertahun-tahun, pak Ujang bisa mendeteksi jenis kupu-kupu dari kepompong saja. Membawa kepompong ke luar daerah pun tidak memerlukan penanganan khusus. Cukup ditempatkan di dalam sebuah botol yang dialasi potongan kertas. Walau pun jika masih berbentuk ulat, kupu-kupu tidak terlalu membutuhkan Oksigen, namun pak Ujang tetap menyediakan lubang untuk tempat pertukaran udara.

Berkat kupu-kupu, pak Ujang berkesempatan untuk mengenal banyak peneliti dari dalam dan luar negeri. Karena kupu-kupu pula pak Ujang memiliki kesempatan untuk mengirimkan kupu-kupu Lembah Harau ke Australia, Jerman, Cheko, Jepang, Amerika Serikat, dan berbagai daerah di Indonesia. Kupu-kupu telah berjasa dalam kehidupan pak Ujang dan keluarganya. Meski pun terkendala modal, namun pak Ujang bertekad untuk terus melanjutkan usahanya. Pak Ujang juga harus melakukan transfer ilmu mengingat usianya yang semakin menua. Semoga keinginan pak Ujang untuk melihat taman kupu-kupu ada di daerah Lima Puluh Kota dapat terlaksana. (***)

*Kepala Bidang Pariwisata Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version