x
Maleset...

Maleset...

Selasa, 05 Maret 2013, 09:23:50
Oleh: Satria Donald *

Kata maleset kerap digunakan sebagian masyarakat Minang, untuk mengungkapkan rasa kekecewaannya ketika apa yang diperoleh tidak sesuai dengan targetnya. Kata maleset bisa saja keluar dari mulut seorang pedagang yang kecewa dengan hasil dagangannya atau dari seorang pebisnis, politisi, pengusaha, karyawan, bahkan masyarakat awam yang kecewa terhadap pemimpinnya.

Arti kata maleset tidak akan ditemukan pada kamus Bahasa Indonesia, kendati Anda coba menelusuri melalui Google. Maaf, kata maleset tidak ada dalam kamus! kira-kira itu jawaban yang Anda temukan. Namun, bila Anda mencari kata meleset atau peleset dalam kamus Bahasa Indonesia artinya tidak mengenai sasaran atau tidak mengenai yang dituju.

Beberapa minggu terakhir, saya sering mendengar kata maleset yang diucapkan orang sekampung yang merantau di Kota Bertuah. Mereka umumnya berprofesi sebagai pedagang, baik di pasar, kaki lima atau pedagang keliling ke sejumlah pasar di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

"Maleset, saketek galeh nan laku ari ko (hanya sedikit dagangan yang laku hari ini)," kata salah seorang teman yang berjualan di daerah Panam. Dia mengeluhkan bagaimana sulitnya ekonomi saat ini, sejak Pemerintah Kota Pekanbaru mengusur sejumlah pedagang kaki lima yang berjualan di areal Taman Kota atau di belakang Kantor Gubernur Riau. Parahnya, sampai saat ini tidak ada solusi dari Pemko untuk memindahkan pedagang itu ke kawasan baru. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian pedagang berupaya mencari lokasi baru di daerah Panam, Rumbai dan kawasan lainnya di Pekanbaru.

Dua hari yang lalu, kata maleset kembali saya dengar dari salah seorang kawan yang berjualan barang harian di Jalan Delima, Panam. Dia mengaku kesal akibat keberadaan sejumlah mini market di daerah itu sejak satu tahun terakhir. Persaingan yang tidak sehat, membuat jual belinya menurun drastis, karena langganannya banyak yang berpindah hati, belanja di mini market yang serba lengkap, nyaman dan harga lebih murah dari barang harian yang dijualnya.

Belum lagi kesalnya hilang, kawan saya menceritakan nasib temannya yang urung membuka usaha menjual barang harian di simpang Jalan Delima. Karena, mini market bernama Indomaret lebih dulu membuka usahanya di ruas jalan padat penduduk itu. Bahkan, tak berapa lama lagi, Alfamart juga akan membuka usaha serupa di Jalan Delima, sehingga di daerah itu akan ada tiga mini market yang berdiri.

Kondisi ini tentunya membuat pedagang yang memiliki modal pas-pasan kalang kabut. Mereka ketakutan menerima kenyataan ini, kehadiran Indomaret dan Alfamart membuat mereka berpikir tujuh keliling untuk melanjutkan usahanya. Bahkan, informasi yang dirilis sejumlah media, ada sekitar 200 gerai Indomaret dan Alfamart yang dibuka tahun ini di Pekanbaru.

Tak terbayang bagaimana nasib pedagang kecil, kalau rencana ini terealisasi yang tentunya mengantongi izin dari Pemko Pekanbaru. Warga berharap, permasalahan yang dihadapi pedagang yang notabenenya merupakan masyarakat menegah ke bawah ini menjadi perhatian serius bagi Walikota Pekanbaru, Firdaus. Jangan biarkan masyarakat terus kecewa dengan kebijakan yang tak pro rakyat, padahal Firdaus adalah Walikota pilihan rakyat. Warga tak mau, kebijakan yang diambil Firdaus itu maleset!!! (***)  

* Bekerja di salah satu media di Pekanbaru sebagai Redaktur

Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version