x
Menjadikan Sagu Meranti Sebagai Penyedia Pangan Karbohidrat
Bambang Hariyanto. (Foto:FokusRiau.Com)

Menjadikan Sagu Meranti Sebagai Penyedia Pangan Karbohidrat

Jumat, 04 Januari 2019, 08:52:32
Oleh: Bambang Hariyanto*

Perhelatan hari pangan se dunia tahun tahun lalu di negeri lancang kuning atau dengan sebutan the home land of Melayu atau negeri Melayu, terasa lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Keistimewaan ini terlihat dari acara pagelaran hasil kreativitas kuliner berbahan baku sagu, yang berjumlah 369 jenis makanan, untuk dicatat ke dalam rekor MURI.

Pagelaran tersebut merupakan upaya kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti serta beberapa asosiasi, yang dimaksudkan untuk membumikan sagu sebagai pangan pilihan dan pangan strategis selain beras.

Upaya untuk membumikan sagu menjadi pangan pilihan dan pangan strategis selain beras  bukan sebuah uthopia, mengingat sampai akhir tahun 2017 di wilayah Provinsi Riau terutama di Kabupaten Kepulauan Meranti, tercatat potensi lahan untuk pengembangan usaha perkebunan sagu mencapai luas ± 114.054 Ha dan tersebar di 9 wilayah kecamatan. 

Dengan lahan usaha budidaya sagu seluas 59.817 Ha, terdiri dari tanaman sagu rakyat seluas 38.399 Ha atau 64,19 persen, dan tanaman sagu perusahaan besar swasta seluas 21.418 Ha atau 38,81 persen. 

Dominasi kepemilikan lahan usaha budidaya tanaman sagu oleh rakyat dapat mempertegas bahwa tanaman tersebut merupakan tanaman leluhur dan memainkan peran sangat bermakna terhadap dinamika perekonomian di wilayah tersebut.

Hal ini diperlihatkan oleh kemampuan produksi pati sagu kering sejumlah 210.000 ton per tahun, dan menjadi penghela sumber kehidupan bagi sejumlah 6.766 kepala keluarga petani, dan sejumlah 1.005 tenaga kerja pada kilang pengolah pati sagu, serta dapat menggerakkan sejumlah 9.627 unit UMKM.

Peran sagu sebagai tanaman masa depan, dan sumber penghasil karbohidrat untuk menegakkan "kedaulatan pangan", dapat diperlihatkan oleh produksi pati sagu kering dari Kabupaten Kepulauan Meranti sejumlah 210.000 ton per tahun.

Hasil pengamatan terhadap pola konsumsi pangan masyarakat di Propinsi Riau sepanjang tahun 2017, menunjukkan bahwa konsumsi pangan masyarakat  didominasi oleh pangan biji-bijian (beras), lemak, dan minyak.  

Pola konsumsi ini ditengarai cenderung menjadi pencetus penyakit tidak menular, sebagaimana diperlihatkan oleh angka penderita Diabetes Mellitus (DM) tahun 2017 yang tercatat sebesar 1,2 persen atau setara dengan 74.261 jiwa penduduk.  

Data statistik kesehatan versi WHO tahun 2004 mengungkapkan bahwa penderita diabetes mellitus di Indonesia tercatat sejumlah 8.4 juta jiwa menduduki urutan keempat setelah Amerika. Pada tahun 2030, diperkirakan penderita DM di negeri ini akan menembus angka 21.257.000 jiwa dengan angka pertumbuhan yang sangat mencemaskan yakni 152 persen per tahun. Sebagai pemicu makin banyaknya penderita DM akibat pola hidup umumnya dan pola makan khususnya yang kurang sehat.
  
Nenek moyang di Provinsi Riau ini sudah mengajarkan bahwa kondisi tanahnya umumnya kurang sesuai untuk tanaman padi sebagai penghasil beras karena banyak tanah bergambut dan terdiri dari banyak kepulauan.  

Secara alami sagu telah tumbuh subur sebagai penyedia pangan karbohidrat, namun tanaman sagu banyak tergusur oleh tanaman lain utamanya sawit. Jaman terus bergerak dan pola makan telah berubah dan hampir sebagian besar penduduk di provinsi Riau mengkonsumsi nasi sebagai pangan pokoknya.

Beralihnya polah pangan pokok dari non beras ke beras ini memberi konsekwensi untuk selalu harus menyediakan beras. Karena daya dukung provinsi Riau untuk menghasilkan padi kurang mendukung maka beras didatangkan dari luar provnsi.  

Catatan tahun 2015 menunjukkan bahwa di provinsi Riau mendatangkan beras sebesar 481.201 ton, akibat selisih produksi beras 247.144 ton sedangkan konsumsi 728.345 ton (BPS, 2015). Diperkirakan, tahun-tahun mendatang Kabupaten Kepulauan Meranti akan terus terjadi deficit beras akibat tidak seimbangnya antara produksi dan konsumsi.

Bagi provinsi Riau sagu memiliki peran penting karena memang sagu cocok dapat tumbuh di tanah yang agak masam dan secara soisologis masyarakat sudah terbiasa mengkonsnsumsi sagu. Pada bulan Oktober 2016 telah disampaikan juga tentang adanya Deklarasi pangan berbasis sagu yang disampaikan oleh Gubernur Riau dan ujungnya akan diterbitkan edaran tentang “one day eat sago”. 

Tentu hal ini menjadi langkah awal untuk lebih membumikan sagu di negeri leluhur. Pastinya saat ini cara penyajian sagu diperlukan adanya inovasi dan tidak mengandalkan produk yang sudah tersedia.

Salah satu inovasi dalam pengembangan sagu adalah pengenalan beras sagu, yaitu beras yang dibuat dari pati sagu dan bentuknya mirip dengan bulir–bulir beras.  Beberapa keungulan beras sagu terletak di kandungan korbohidrat kompleks dan memiliki indeks glikemik (IG) rendah sehingga memiliki keunggulan sebagai penyedia karbohidrat pendamping beras. Yang dimaksud IG adalah ukuran kecepatan pati diubah menjadi gula dalam darah. 

Selain itu sagu juga bebas gluten (gluten free) sehingga sagu layak disebut sebagai pangan sehat. Bila beras sagu ini dapat dikenalkan masyarakat khususnya di Provinsi Riau maka akan memiliki dampak untuk memperkecil angka kematian akibat diabetes.

Seiring dengan perubahan iklim, alih fungsi lahan sawah dan mahalnya biaya untuk menyiapkan infrastruktur pendukung usaha tani padi, ditambah dengan produktivitas padi yang telah maksimal dan harga produksi dikendalikan, maka produksi padi semakin mahal biayanya. 

Tanaman Sagu mampu mengambil peran sebagai tanaman penyesuai terhadap keterbatasan tanaman padi sebagaimana selama ini dijadikan sumber penghasil karbohidrat. Beberapa hal yang menguatkan bahwa sagu layak untuk terus dikembangkan.

Pertama tanaman sagu merupakan penyedia karbohidrat terbesar dibanding penghasil tanaman karbohidrat lain. Produksi pati sagu setiap ha dapat mencapai 15 ton.Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tanaman padi yang hanya 7 ton, jagung 5 ton, ubi kayu 12 ton (Ishizaki, 1997).  

Bila luas hutan sagu di Papua 2 juta ha, maka potensi untuk menghasilkan sagu per tahun sebesar 30 juta ton pati dan hampir sama dengan produksi gabah yang membutuhkan lahan subur 12 juta ha lebih.  Oleh sebab itu, sagu menjadi potensi penyedia pangan karbohidrat yang handal, namun belum banyak diperhatikan.

Kedua,  kandungan  sagu miskin  gizi artinya kadar protein dan lemaknya rendah sehingga untuk makan sagu dalam bentuk sagu murni (papeda) misalnya meski lauknya ikan ekor kuning sebagai kelengkapannya.  Karena miskin gizi ini, pati sagu akan tahan disimpan bertahun-tahun. Karena itu, China sudah memesan pati sagu dari Indonesia setiap bulan minta pasokan 250 ribu ton. Pati sagu disimpan sebagai cadangan pangan maupun untuk energi.

Ketiga, sagu mengandung karbohidrat kompleks, sehingga bila pati sagu dikonsumsi akan menghasilkan resistant starch (RS) yang baik untuk usus sehingga dapat mencegah terjadinya kanker usus.  Selain itu karena RS sagu tinggi maka karbohidrat diubah menjadi gula secara perlahan sehingga menghasilkan Indeks Glikemik (IG) rendah sehingga baik untuk para penderita diabetes. 

Karbohidrat yang mengandung IG rendah ini sangat penting karena Indonesia memiliki penduduk yang menderita diabetes terbanyak ke-4 di dunia. Dengan demikian sagu ini menjadi baik untuk kesehatan (Haryanto, 2015).

Keempat, tanaman sagu ini merupakan tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim yang saat ini sering melanda Inonesia dan dunia.Tanaman ini tahan kekeringan maupun kebanjiran.

Kelima, tanaman sagu dapat menyerap CO2 terbesar dibanding tanaman lain sehingga baik untuk menyerap polusi di kota-kota besar. Besarnya polusi sebagai indikasi tingkat modernitas suatu negara. Di sini sagu dapat berfungsi sebagai penyerap karbondioksida (Haska, 2011).

Keenam, tanaman sagu ini memiliki keberlanjutan yang paling tinggi dibanding tanaman lain sehingga tanaman sagu tidak perlu di-replanting, dan tahan terhadap perubahan iklim.Saat ini perubahan iklim sangat kentara dan terjadi musim yang tidak menentu dan akan mengganggu siklus suatu tanaman.

Ketujuh tanaman ini dapat dikelola dalam segala ukuran produksi mulai dari skala rumah tangga, skala kecil, menengah, dan skala besar. Kedelapan, pati sagu dapat disimpan lama karena miskin gizi serta tidak mengandung gluten yang saat ini banyak digunakan bagi anak autis.

Dengan mengelola tanaman sagu secara baik maka ketersediaan pangan karbohodrat akan terjaga dan terjadinya perubahan iklim dapat diantisipasi dengan baik.  Alangkah sayangnya bila potensi sagu di Riau ini tidak dikelola secara maksimal karena pihak asing sudah banyak yang mengincar demi ketersediaan pangan di Negaranya dalam menghadapi perubahan iklim.

Untuk mengoptimalkan peran sagu sebagai bahan komoditi penegak kedaulatan pangan, pangan sehat dan tanaman penyedia karbohidrat, diperlukan dukungan regulasi disertai konsistensi strategi sebagai prasyarat. Guna menciptakan pasar lokal permanen untuk menampung hasil olahan pangan berbahan baku sagu terutama "beras sagu", dapat ditempuh dengan menggunakan kebijakan daerah dengan berbagai skenario. 

Misalnya setiap Aparatur Sipil Negara (ASN), di Provinsi Riau diberi jatah beras sagu 10 kg (jatah beras dari Pemerintah 40 kg).  Bila jumlah ASN di prov Riau sebesar 7800 orang, maka kebutuhan beras sagu per bulan mencapai 10x 7880= 78800 kg atau 78.8 ton. Setahun membutuhkan 12 x78.8 ton= 945,6 ton atau sekitar 1.000 ton.  Penyediaan 1000 ton beras sagu ini juga akan menggerakkan perekonomian masyarakat penghasil sagu maupun kegiatan lain.

Dampak lain yang akan diperoleh adalah masyarakat Riau semakin sehat karena beras sagu memiliki IG rendah dan menyehatkan.  Dengan demikian biaya untuk berobat semakin kecil dan masyarakatnya lebih produktif.

Bila hal yang sama juga dilakukan di tingkat kabupaten se provinsi raiau maka dampaknya akan terlihat beberapa tahin kemudian.  Bila masyarakat Riau telah sadar dan bangga mengkonsumsi sagu, maka itulah saatnya sagu mulai membumi di negeri lancing kuning. Manakala Riau sudah memanfaatkan sagu sebagai pendanping pangan beras sebagai sumber karbohidrat maka disitulah sagu akan dipandang sebagai pangan strategis.

Demikian sagu sebagai penedia pangan karbohidrat yang berkelanjutan manakala dikelola secara baik dan tindakan nyata dalam rangka mendukung sagu menyapa dunia maka sagu meranti merupakan sentra produksi sagu sejak lama dan suatu saat akan menjadi pangan strategis. (***)




Penulis adalah Peneliti Utama  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version