x
Menteri Siti Nurbaya Segel PT Adei Plantation and Industry, Anak Perusahaan Malaysia
KLHK segel lahan PT Adei Plantation. (Foto:Istimewa)

Menteri Siti Nurbaya Segel PT Adei Plantation and Industry, Anak Perusahaan Malaysia

Jumat, 13 September 2019, 14:01:59
JAKARTA-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel lahan anak perusahaan asal Malaysia, PT Adei Plantation and Industry yang berada di Kabupaten Pelalawan, Riau, Rabu (11/9/2019) lalu terkait kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Perusahaan itu diduga sengaja membakar hutan dan lahan. Siti juga mengirimkan dokumentasi proses penyegelan yang dilakukan Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum KLHK. "Sudah kami periksa perusahaan pembakar hutan dari Malaysia. Sudah disegel tanggal 11 (September) kemarin," kata Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Kamis (12/9/2019).

Sebagian besar saham PT Adei, dimiliki Kuala Lumpur Kepong (KLK) yang berpusat di Malaysia. "Saham terbesarnya KL-Kepong Plantation," ujarnya.

Siti mengatakan, pihaknya saat ini tengah mendata daftar perusahaan asal Malaysia dan Singapura yang lahannya terbakar. Semua akan diidentifikasi lebih dalam. "Saya sedang minta Dirjen cek seluruh daftar perusahaan Malaysia dan Singapura yang (lahannya) terbakar. Data sedang dikumpulkan ya," tuturnya.

Minta Menteri Malaysia Objektif
Siti turut membantah, dirinya berkelit soal kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang masuk ke wilayah Malaysia. Siti menyatakan, dirinya menjelaskan analisis data satelit dari tanggal 3 sampai 8 September.

"Data itu yang saya jelaskan. Saya minta supaya obyektif. Kalau yang dibahas data yang hari ini ya tentu lain dong situasinya. Makanya harus sekuensial dong melihat dan mengolah data," ujarnya.

Politikus Partai NasDem itu menyatakan, pemerintah Indonesia sudah bekerja sejak Januari mengatasi masalah karhutla serta asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.

Menurutnya, saat ini sudah ada 46 helikopter yang diterjunkan untuk mengatasi karhutla. Hujan buatan juga sudah dilakukan di Kalimantan Barat. Sementara itu Kalimantan Tengah sedang meminta tambahan 2 helikopter untuk memadamkan titik panas. "Jadi ya terus kerja saja dengan wilayah begini luas, saya tidak sempat berpolemik," tuturnya.

Siti meminta Menteri Energi, Teknologi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Malaysia, Yeo Bee Yin agar objektif dalam melihat data titik panas yang berada di wilayah Indonesia dan Malaysia. Ia tak ingin berpolemik lebih jauh dengan Yeo Bee Yin terkait kabut asap ini.

"Saya hanya minta dia obyektif dan sekuensial melihat analisis data. Sudahi aja ya, kami kerja saja, jaga masing-masing langkah," ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 6.255 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Data itu dari hasil pemantauan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Satelit Himawari-8 (JMA) selama 10 hari terakhir, sejak 1 sampai 10 September.

Dari hasil pemantauan BMKG mulai 1 September 2019 sebanyak 381 titik naik menjadi 787 titik pada tanggal 4 September 2019. Kemudian sempat menurun menjadi 513 titik pada 6 September 2019 dan kembali naik menjadi 829 titik pada 10 September 2019.

Lokasi titik panas itu antara lain berada di wilayah Indonesia, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu juga terdeteksi di Malaysia, seperti Semenanjung Malaysia dan Serawak, hingga Thailand, Filipina, Papua Nugini, Vietnam dan Timor Leste. (*)




Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: CNNIndonesia
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version