x
Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Senin, 23 Juli 2012, 11:38:15
Chairuddin *

Penetapan awal Ramadan tahun 1433 H kembali mengalami perbedaan dengan sejumlah kelompok beragama lainnya di Tanah Air. Kelompok Naqsabandiyah di Kota Padang mulai puasa, Rabu 18 Juli 2012, Muhammadiyah, Jumat tanggal 20 Juli 2012, sementara pengikut Syattariah melihat bulan tanggal 20 Juli 2012, dan mulai puasa Sabtu atau Minggu. Sedangkan pemerintah/kementerian agama menetapkan 1 Ramadan, Sabtu 21 Juli 2012.
 
Selama 7 tahun terakhir, terjadi beberapa kali beda pendapat antara Muhammadiyah dan pemerintah mengenai Lebaran 1 Syawal, antara lain tahun 2006, 2007, 2008, 2011 dan tahun ini. Perbedaan timbul karena berbedanya pandangan masing-masing tentang posisi bulan pada 29 Sya’ban (19 Juli 2012), ketinggian bulan 01-27 derajat di saat matahari terbenam hari itu.
 
Pertama, Muhammadiyah memakai metode wujudul hilal (hisab hakiki) dan menetapkan awal Ramadan Jumat tanggal 20 Juli 2012. Alasannya, bulan (hilal) sudah wujud (ada) di atas ufuk waktu matahari terbenam Kamis tanggal 19 Juli 2012, meskipun tidak bisa dilihat dengan teleskop sekalipun, lantaran dekatnya bulan dengan matahari, sehingga cahaya ma­tahari yang begitu kuat (te­rang) menghilangkan rupa/wujud bulan. Metode ini telah ditetap­kan Muhammadiyah pusat pe­rio­de Jarnawi tahun 1969. Ke­tetapan ini diperkuat lagi dalam musyawarah nasional tarjih Muhammadiyah tahun 2005 di Padang dan disokong Persatuan Islam (Persis).
 
Persis merupakan ormas Islam dengan tokoh terkenal A Hasan (Hasan Bandung) yang tidak terikat pada salah satu mazhab sebagaimana Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Salah satu tokohnya alm Moh Natsir. Uniknya, dalam menetapan Idul Fitri tahun 2007, Persis berlebaran tanggal 13 Oktober sama dengan pemerintah, sedangkan Muhammadiyah Lebaran tanggal 12 Oktober 2007.
 
Kedua, pemerintah dan MUI menetapkan awal bulan Qamariah dengan menggabungkan hisab dan rukyah, disebut dengan imkanurrukyah. Artinya, MUI juga mempedomani posisi bulan tanggal 29 Sya’ban yang dipakai Muhammadiyah (wujud hillal), ditambah satu syarat lagi, wujud hilal itu ada kemungkinan dapat dilihat, minimal tingginya 2 derajat. Kemudian jarak waktu antara ijtimak akhir Sya’ban dengan terbenam matahari 8 jam. Menurut MUI, hisab bukanlah dalil yang man­diri, tapi sebagai sarana il­miah untuk mengetahui adanya kemungkinan rukyah (bulan bisa dilihat), tidak pernah dengan li wujudih (karena bulan sudah wujud).
 
Keputusan MUI di atas ditetapkan dalam fatwa MUI No 02 Tahun 2004 tanggal 24 Januari 2004, penetapan awal bulan didasarkan pada metode hisab dan rukyah dilakukan pemerintah c.q Departemen Agama dan berlaku secara nasional. Konferensi Islam di Istambul tahun 1978 yang dihadiri 18 negara Islam/muslim termasuk Indonesia, memutuskan persyaratan yang lebih tinggi, yakni ketinggian bulan minimal lima derajat (MUI hanya 2 derajat). Ban­ding­kan dengan ketinggian bu­lan Kamis 19 Juli 2012, hanya 01 derajat.
 
Pandangan penulis, pertama, perbedaan satu hari antara Muhammadiyah dengan pemerintah masih dipandang wajar. Tapi, jika perbedaan itu sampai 4 atau 5 hari memang memprihatinkan di tengah-tengah kemajuan teknologi dan ilmu astronomi di zaman canggih ini. Perbedaan menyolok timbul karena; pertama, adanya prinsip rukyah yang kaku; kedua, ada pula hisab yang hanya berdasarkan angka dan rumus-rumus ter­tentu yang tidak jelas sumbernya dan tidak pula ada kaitannya sama sekali dengan ilmu astronomi/falakiah. 

Ketiga, perbedaan awal Ramadan lebih ringan dari perbedaan 1 Syawal, karena bagaimanapun juga, syiar agama di hari Lebaran lebih kentara dari hari memulai puasa. Perbedaan yang menyolok pernah pula terjadi pada Idul Adha 2007/1428 H. Muhammadiyah dan pemerintah menetapkan hari yang sama (Kamis, 20 Desember), sedangkan majelis Mujahidin, Hizbut Tahrir dan Dewan Dakwah Islam (DDII) melaksanakannya, Rabu tanggal 19 yang didasarkan hari wuquf di Arafah (Arab Saudi), Selasa tanggal 18. 

Penetapan awal bulan berdasarkan penanggalan di negeri Arab merupakan pendapat yang syaaz (mengganjil). Imbauan penulis: Perbedaan pendapat tentang awal Ramadan dan Syawal janganlah menjadi sumber konflik. Lebih-lebih menuduh pihak lain berbuat haram. Umpamanya, si A yang mulai puasa Jumat menuding si B yang mulai puasa Sabtu, sebagai fasik karena masih makan dan minum di 1 Ramadan. 

Yang benar menurut penulis adalah, haram berpuasa bagi orang mempercayai bahwa hari itu sudah memasuki 1 Syawal, dan haram pula makan dan minum bagi orang yang mempercayai hari itu awal Ramadan. Prisipnya; “Jan disorongan kupiah awak ka kapalo urang lain, alun tantu sasuai doh”. Akhirul kalam:
 
“Burung si antiang-antiang Cino
Hinggok di ujuang-ujuang dahan
Karano Ramadhan alah tibo
Ridho jo maaf ambo mo­hon­kan
 
“Lawan pendapat adalah lawan berpikir”. 
Terima kasih. Wassalam. (*)


*Ketua MUI Padang Pariaman, Sumatera Barat
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version