x
Ratusan Warga Desa Koto Aman Demo dan Tidur di Bawah Flyover Pekanbaru, Inilah Harapan Mereka
Warga Koto Aman Kampar menginap di bawah fly over Pekanbaru. (Foto:Tribunpekanbaru)

Ratusan Warga Desa Koto Aman Demo dan Tidur di Bawah Flyover Pekanbaru, Inilah Harapan Mereka

Rabu, 13 Maret 2019, 07:48:01
PEKANBARU-Hampir sembilan hari, ratusan warga Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau menggelar aksi demonstrasi dan bertahan di Pekanbaru. Sampai Rabu (13/3/2019), mereka terus bertahan dan menginap di bawah jembatan fly over Pekanbaru.

Sebelumnya, warga Desa Kota Aman ini tiba di Pekanbaru, Selasa (4/3/2019) lalu. Mereka datang ke Pekanbaru untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, baik pusat dan provinsi untuk menuntaskan koflik lahan di Desan Koto Aman.

Mereka menuding, lahan mereka seluas lebih kurang 1500 hektare dikuasai oleh PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL). Selama di Pekanbaru warga Desa Koto Aman sudah beberapa kali melakukan aksi unjuk rasa. Baik di Depan Kantor Gubenur Riau sampai ke Gedung DPRD Riau.

Selama di Pekanbaru ratusan warga desa Koto Aman ini bertahan dibawah Flyover simpang Jalan Sudirman-Tuanku Tambusai, Pekanbaru.

"Kita tidak akan pulang ataupun mundur sebelum kami terlepas dari penjajah kapitalis di desa kami. Yakni kembalikan lahan kami seluar 1500 hektar yang telah dirampas PT SBAL," kata Dapson, perwakilan warga Desa Koto Aman.

Menurutnya, hampir 80 persen lahan kehidupan masyarakat Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kampar, Riau dikelola PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) sejak tahun 1991. "Itu adalah awal dari masa kelamnya anak cucu kami di sana. Dimana pada tahun iyu pihak asing mulai masuk ke tanah kami dan menyerobot lahan kami dengan modus perkebunan kelapa yang pada akhirnya berubah menjadi kebun kelapa sawit," kata Dapson.

"Para pemangku jabatan di negeri ini sudah buta, tuli dan bisu terhadap nasib kami di desa yang terpencil dan tertindas. Kebohongan janji pada petingging Riau ini sudah membuat kami bosan, bahkan pemimpin di republik ini juga ikut memberi janji manis yang sangat menyayat hati kami masyarakat kecil," tukasnya.

Sengketa lahan antara warga Desa Koto Aman dengan PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) sudah terjadi sejak tahun 1991. Bahkan warga setempat sudah melakukan berbagai upaya untuk menuntut keadilan agar lahan mereka yang diduga dikuasai oleh PT SBAL bisa dikembalikan kepada masyarakat. "Kami bahkan sudah 12 kali melakukan pertemuan dengan Pemkab Kampar, bahkan sudah dibentuk tim, namun hasilnnya nol," kata Dapson.

Diungkapkan, perusahaan sulit berkomunikasi dengan tim yang diketuai Bupati Kampar saat itu alm Azis Zaenal. Bahkan saat tim akan turun melakukan survei ke lapangan sempat tidak diizinkan oleh perusahaan. Sehingga tim tidak mendapatkan hasil saat turun ke lapangan.

"Tim melakukan survei ke lapangan di wilayah desa koto aman untuk melihat fakta yang terjadi. Apakah benar PT SBAL ini mengambil wilayah desa kto aman untuk dijadikan lahan perkebnunan atau tidak. Namun ketika tim turun ke lapangan, ada hambatan ditemui di lapangan pihak perusahaan tidak mengizinkan tim dari Pemda Kampar untuk melakukan survei ke perkebunan mereka yang mana lokasi perkebunan mereka masuk ke desa koto aman," beber Dapson.

Warga Desa Koto Aman meminta agar BPN bersama pihak perusahaan dan Pemprov Riau bersama-sama turun ke lapangan untuk mengukur ulang lahan milik PT SBAL. "Kita minta lahan PT SBAL itu diukur ulang, supaya kita tau, lahan seluas 6200 hektare itu yang mana, kita ingin kejelasan," katanya. (*)







Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Tribunpekanbaru
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version