x
Selama Memimpin, Indra Buka Isolasi, Luncurkan Desa Mandiri

Selama Memimpin, Indra Buka Isolasi, Luncurkan Desa Mandiri

Senin, 17 Desember 2012, 09:10:35
Banyaknya daerah terisolir menjadi perhatian serius H Indra Muchlis Adnan, setelah beberapa bulan memimpin Kabupaten Indragiri Hilir, pertengahan 2004 lalu. Kendati masih dihadang persoalan infrastruktur, minimnya sarana pelayanan kesehatan dan rendahnya sumber daya manusia yang tak bisa diabaikan, kebijakan untuk membangun desa tetap menjadi prioritas utamanya.

Setelah sukses melakukan ujicoba terhadap lima desa dengan memberikan dana masing-masing sebesar Rp500 juta, tahun 2006, Indra membuat kebijakan agar program yang diberi nama 'Desa Mandiri' bisa diterapkan secara menyeluruh kepada 192 desa dan kelurahan yang tersebar di 20 kecamatan di Inhil. Anggaran sekitar Rp50 miliar lebih dari APBD Inhil disiapkan untuk mendukung program tersebut.
        
Dalam penerapannya, desa dan kelurahan diberi keleluasaan menentukan ke mana saja anggaran yang berkisar Rp250 juta hingga Rp500 juta akan dialokasikan. Mulai dari proses perencanaan hingga pengerjaan, Pemkab Inhil tidak ikut campur tangan, namun tetap melakukan pengawasan agar anggaran yang diberiakan tepat sasaran.

"Itulah yang membedakan program Desa Mandiri di Inhil dengan daerah lainnya, kita serahkan sepenuhnya kepada desa, Pemkab hanya mengawasi saja agar uang yang diberikan dirasakan manfaatnya oleh warga desa. Terserah mereka, mau bikin jalan, rumah ibadah, jembatan atau infrastruktur  lainnya, yang terpenting uang yang kita serahkan itu tepat sasaran, makanya kita lakukan pengawasan," papar Indra dalam sebuah dialog bersama wartawan.

Dua tahun program Desa Mandiri berjalan, dampaknya sangat luar biasa. Pembangunan infrastruktur desa berkembang pesat, perlahan-lahan daerah yang terisolir mulai dapat dilalui dengan menggunakan jembatan yang dibangun melalui program tersebut. Warga pun dengan mudah membawa hasil perkebunan mereka, tanpa harus menggunakan transportasi sungai dengan biaya yang cukup mahal. Perekonomian desa mengeliat, setiap tahun hingga 2012 ini Pemkab Inhil tetap menggangarkan dana sekitar Rp60 miliar untuk menjalankan program Desa Mandiri itu.

"Sekarang baru terasa benar-benar merdeka, sejak jalan dan jembatan menuju desa dibangun, saya dengan mudah membawa hasil perkebunan untuk dijual ke perusahaan, program Desa Mandiri sangat membantu kami yang berada di pedesaan," papar Warno, warga Kecamatan Mandah kepada Indra saat melakukan kunjungan kerja ke daerah itu.

Sejalan dengan Desa Mandiri, program bantuan ekonomi turut pula digulirkan, sasarannya kaum ibu-ibu. Mereka diberi modal untuk mengembangkan usaha rumahan. Desa yang mengembangkan program tersebut mayoritas menyatakan sangat minim tunggakan terhadap dana yang sifatnya dipinjamkan itu.

"Desa titik persoalan yang sesungguhnya. Kalau desa maju, maka persoalan dalam membangun daerah akan sangat mudah diantisipasi. Ini yang menginspirasi saya untuk meluncurkan program Desa Mandiri itu," ucap Indra.

Bahkan tahun 2008, Indra kembali membuat kebijakan baru dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar per desa. Tahap awal, dipilih 20 desa sebagai percontohan, hasilnya sangat luar biasa. Tahun 2009, Indra memprogramkan seluruh desa memperoleh anggaran Rp1 miliar, namun program itu sulit direalisasikan karena keterbatasan jumlah APBD Inhil. Di lain sisi, Pemkab juga butuh dana untuk membangun infrastruktur lainnya, seperti pelabuhan, bandar udara, terminal serta jembatan penghubung antar kecamatan yang butuh biaya yang tidak sedikit.

Keberhasilan program Desa Mandiri membuka mata lawan-lawan politik dan orang yang selama ini  mencibirnya. Sebagian dari mereka mengakui apa yang dilakukan Indra sangat brilian dan memberikan hasil optimal dalam memberdayakan masyarakat.

Selain melakukan perubahan frontal dengan membangun desa, pria kelahiran Teluk Pinang tahun 1966 itu juga mengubah pola pikir masyarakat perihal sulitnya untuk bertemu pemimpin. Setiap melakukan kegiatan ke desa-desa, Indra sering kali menanggalkan aturan protokoler. Sangat jarang Pak Jenggot, sapaan warga kepada Indra, meminta disiapkan hidangan dan acara penyambutan yang rumit.

Di suatu acara, Indra terlihat bangga makan di warung emperan bersama warga. Saat makan, dia pun memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan persoalan-persoalan yang dihadapi. Bahkan, selama empat tahun ditugaskan di Tembilahan (ibukota Inhil), Haluan Riau sering melihat Indra makan mie rebus di warung pinggir jalan. Kadang-kadang saat bercengkrama dengan warga di warung itu, datang salah seorang pejabat setingkat kepala dinas untuk menyerahkan sejumlah berkas yang harus ditandatangani Indra. "Kalau kita menjaga jarak dengan warga bagaimana mungkin bisa mengerti keinginan mereka," kata Indra.

Kebiasaan Indra yang merakyat itu membungkam cibiran dan kritikan terhadap mereka yang tidak suka selama ini. Itu dibuktikan saat Pilkada digelar tahun 2009, Indra bersama Rosman Malomo kembali di pilih masyarakat Inhil dengan suara yang cukup signifikan dibanding pasangan calon lainnya. (hr/satria donald)
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version