x
Terlalu Cepat Menyerah

Terlalu Cepat Menyerah

Jumat, 05 April 2013, 14:30:44
Oleh: Andrie Wongso*

Alkisah, ada seorang pelukis terkenal di sebuah negeri. Suatu hari dia kedatangan seorang tamu pria yang sudah lanjut usianya. Orang tua itu membawa beberapa sketsa yang ingin diperlihatkan kepada pelukis besar tersebut untuk meminta pendapat dan penilaian apakah sketsa itu bernilai atau setidak-tidaknya, menyatakan seberapa besar bakat potensial dari pembuatnya.

Sekilas, dilihatnya sketsa berbagai bentuk dan jenis hewan dihadapannya. Karena keahliannya, dalam waktu sekejap saja, pelukis besar itu sudah dapat menilai apakah sketsa atau lukisan kasar itu memiliki nilai artistik atau sebaliknya tidak berharga sama sekali. Dengan tutur sapa yang lembut dan halus, si pelukis ternama menyampaikan bahwa sketsa yang diperlihatkan tamunya itu kurang begitu berharga dan kurang memperlihatkan bakat seni.

Tak lupa, sang seniman meminta maaf atas pendapatnya yang mungkin menyakiti tamunya. Akan tetapi dalam hal ini, dia tidak bisa membohongi kenyataan dan pendapatnya. Orang tua itu tertunduk lesu dan tampak kecewa. Kemudian dia mengeluarkan map yang lain, sambil memohon agar si pelukis mau melihat beberapa sketsa dan lukisan lain yang dibawanya yang merupakan karya seorang pemuda dari satu sanggar seni rupa. Kali ini, si pelukis besar itu melihat berbagai jenis sketsa dan juga pemandangan.

Setelah memperhatikan dengan lebih seksama beberapa lukisan berikutnya, si pelukis tampak sangat tertarik dengan bakat seni yang terlihat di lukisan itu, “Ini.. Oh ini bagus sekali! Sangat detail dan memiliki sudut pandang yang unik. Anak muda ini memiliki bakat besar. Ia harus dibantu dan didorong dalam kariernya sebagai seorang pelukis. Dia memiliki masa depan yang cerah jika dia tekun melatih kemampuan dan tekniknya serta setia pada apa yang menjadi cita-citanya sebagai seorang pelukis.”

Mendengar komentar itu, bapak tua tersenyum gembira, “Terima kasih atas penilaian dan penghargaan Anda.”

“Siapa gerangan pelukis muda yang berbakat ini?” tanya si pelukis “Apakah dia putra bapak?”

“Bukan,” jawab si bapak dengan muka dan nada suara sedih. “Lukisan yang terakhir Anda lihat itu adalah coretan tanganku dua puluh tahun silam. Jika saja aku bisa mendengar komentar positif Anda pada saat itu…. Sayangnya aku berkecil hati dan kurang percaya diri lalu berhenti terlalu cepat dalam menekuni aliran seni lukis itu.”  

Lalu dia melanjutkan, “Yakhh.. setidaknya aku telah mendapat satu pelajaran di kehidupan ini. Jangan cepat menyerah, apalagi saat mendengarkan komentar negatif orang lain. Selagi kita mau belajar, perubahan dan kemajuan bisa kita dapatkan. Terima kasih atas pertemuan ini.” Dan merekapun kemudian berpisah..

Pesan
Kadang dalam kehidupan, kita sering diombang-ambingkan oleh pendapat orang lain. Sehingga kita sering mengubah apa yang sedang kita jalani dan yakini. Padahal, semua hasil kesuksesan membutuhkan kepercayaan diri dalam proses perjuangan. Makanya sangat dibutuhkan keyakinan, kepercayaan diri dan berprinsip dalam menjalankan apa yang sudah kita kerjakan. Salam sukses Luar Biasa!!  (awc)

* Pembelajar dan sekaligus Motivator Terbaik di Indonesia
Share on:

BERITA TERKINI
Redaksi - Disclaimer - Tentang Kami - Pedoman Media Syber
Desktop Version